<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Duotravelers</title>
	<atom:link href="http://duotravelers.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duotravelers.wordpress.com</link>
	<description>A couple who travels together grows together</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Feb 2009 12:50:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='duotravelers.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b51b60e7b2246f27a1e44c9fa9cef4ad?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Duotravelers</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Melawat ke Kota Negeri Dongeng</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/14/melawat-ke-kota-negeri-dongeng/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/14/melawat-ke-kota-negeri-dongeng/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 13:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[Kota]]></category>
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[liburan ke eropa]]></category>
		<category><![CDATA[praha]]></category>
		<category><![CDATA[turis indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[
Praha adalah surga bagi penikmat arsitektur. Kemana pun memandang, mata kami dimanjakan oleh keelokan seni bangunan yang bercorak Gothic, Bohemian dan Baroque. Horizon kota ini disesaki oleh menara-menara runcing, kubah-kubah bersepuh warna kehijauan dan genteng-genteng berwarna merah bata. Mirip negeri dongeng yang ada di buku cerita anak-anak zaman aku SD dulu.
 
Permukaan jalan, gang dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=143&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<div id="attachment_154" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-154" title="sais-menunggu-penumpang-di-old-town-square4" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/sais-menunggu-penumpang-di-old-town-square4.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Seorang sais menunggu penumpang di tengah kota tua Praha" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Seorang sais menunggu penumpang di tengah kota tua Praha</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Praha adalah surga bagi penikmat arsitektur. Kemana pun memandang, mata kami dimanjakan oleh keelokan seni bangunan yang bercorak Gothic, Bohemian dan Baroque. Horizon kota ini disesaki oleh menara-menara runcing, kubah-kubah bersepuh warna kehijauan dan genteng-genteng berwarna merah bata. Mirip negeri dongeng yang ada di buku cerita anak-anak zaman aku SD dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Permukaan jalan, gang dan jembatan masih banyak yang dilapisi batu bersusun (<em>cobbled street</em>) seperti layaknya zaman <em>mediaval</em>. Memang sejarah Praha dimulai sejak 1000 tahun silam, ketika dinasti Bohemian mulai berkuasa di wilayah ini. <span id="more-143"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dari sisi geografis, kota ini unik, karena berada di gerbang Eropa Timur . Walau sering disebut sebagai salah satu negara di Eropa Timur, sebetulnya kota ini terletak lebih dekat ke Wina, ibukota Austria, daripada ke Moskow, Rusia. Kendati begitu, gaya dan corak arsitekturnya lebih condong ke gaya Eropa Timur, seperti banyaknya kubah-kubah bangunan yang penuh lekuk-lekuk. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_155" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-155" title="salah-satu-ujung-charles-bridge-yang-dihiasi-menara" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/salah-satu-ujung-charles-bridge-yang-dihiasi-menara.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Charles Bridge yang antik" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Charles Bridge yang antik</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di antara karya arsitektur yang paling mudah dinikmati wisatawan yang datang ke Praha adalah <em><span style="color:black;">Karlův</span> Most</em> atau yang dikenal sebagai <em>Charles Bridge</em> yang membelah Sungai Vltava.<span> </span>Jembatan megah yang terbuat dari batu yang bergaya arsitektural Gothic ini telah menjadi urat nadi ekonomi dan sosial masyarakat Praha sejak 1000 tahun lalu ketika masih terbuat dari kayu. Baru pada abad ke-14, raja Ceko dan Kaisar Romawi Charles IV memerintahkan jembatan ini direnovasi dengan menggunakan batu, dan konon kuning telur dicampurkan ke dalam adukan semen untuk memperkuat konstruksi jembatan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Di atas jembatan ini terdapat 30 patung bergaya Baroque, sementara di kedua ujungnya berdiri menara. Di jembatan yang lebar dan hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki ini, kita bisa menikmati Praha dari berbagai perspektif. <span lang="SV">Memandang ke tiap ujung darataran, kita bisa melihat <em>vista</em> kota Praha yang indah dan penuh menara kuno. Kesannya kuno, romantis, tapi juga mistis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sementara menapaki lantai batu jembatan ini kita disuguhi berbagai hiburan bagi mata dan telinga. Bila hari masih terang, banyak pelukis jalanan yang sibuk mengabadikan Praha di atas kanvasnya, bersebelahan dengan penjaja aneka cenderamata khas Praha, mulai dari boneka kayu, kristal, sampai <em>postcard</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_157" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-157" title="orloj" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/orloj.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Orloj, begitu orang Praha menyebut jam unik ini. Mirip dengan kata arloji ya?" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Orloj, begitu orang Praha menyebut jam unik ini. Mirip dengan kata arloji ya?</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika permukaan sungai Vltava memerah berkilauan karena refleksi langit yang mulai senja, berbagai grup pengamen memainkan alat akustiknya, mengalunkan lagu-lagu romantis yang merdu.<span> </span>Momen-momen seperti ini bagai film romantis Hollywoood yang berubah wujud menjadi tiga dimensi. Riil, menghanyutkan, dan tidak terlupakan. Tidak heran kalau film <em>Mission Impossible 1 </em>memakai Praha sebagai lokasi syuting.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lelah menjalani jembatan tua ini, diujung daratan terdapat berbagai restoran dan café. Sambil menyeruput minuman dingin dan mengudap es krim, kita bisa melihat kapal yang lalu-lalang di bawah jembatan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_158" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-158" title="pengamen-di-atas-charles-bride" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/pengamen-di-atas-charles-bride.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Menjelang sore, banyak pengamen di atas Charles Bridge. Sore yang berwarna terakota dipadu dengan jazz, sungguh romantis" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Menjelang sore, banyak pengamen di atas Charles Bridge. Sore yang berwarna terakota dipadu dengan jazz, sungguh romantis</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kastil Praha, sebuah komplek istana yang luas dan megah berdiri kokoh di daerah berbukit di sebelah Barat Charles Bridge. Ini kastil kuno terbesar di dunia dengan luas lebih dari 7 hektar. Sempat menjadi tempat tinggal berbagai dinasti yang memerintah Praha, sekarang gedung ini berubah menjadi objek turis yang ramai. Di gerbang masuk, turis bisa berfoto dengan penjaga berseragam militer kerajaan lengkap dan <em>stylish</em>. Rupanya seragam penjaga ini baru dikerjakan ulang oleh disainer kostum film <em>Amadeus</em>, film tentang musisi terkenal Mozart. Dari lokasi kastil ini panorama Praha bahkan tampak lebih indah karena dilihat dari ketinggian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tapi tempat yang paling hiruk-pikuk dan tempat paling tepat untuk menghabiskan makan siang sambil melihat orang lalu lalang (<em>people watching</em>) adalah kawasan Old Town, lokasi Praha kuno yang dibangun abad ke-13. Tepat di jantung kawasan ini terdapat Old Town Square, sebuah lapangan luas lengkap dengan bangku kayu untuk siapa saja yang mau melepas lelah. Beberapa sais bertopi hitam menunggu turis yang ingin berkeliling Praha dengan kereta kuda. </span>Sementara di sudut Old Town Square, berdiri gedung Old  Town City   Hall. Di sebelah selatan Old Town City Hall ini terdapat menara jam yang terus dikerumuni orang. Yang mereka lihat adalah sebuah jam besar yang penuh ornamen unik dan setiap pergantian jam, orang bisa melihat pertunjukkan kecil yaitu keluar-masuknya 12 figur orang suci dari jam ini yang diiringi alunan musik. Jam yang awalnya dipasang tahun 1410 ini disebut <em>astrological clock</em>, atau dalam bahasa mereka disebut <em>orloj,</em> kira-kira seperti bahasa kita, arloji. Jam kuno ini berfungsi tidak hanya sebagai penunjuk waktu, tapi juga sebagai penunjuk bulan, panjangnya hari, waktu Babylon, dan posisi bulan dan matahari atau <em>equinox</em>.</p>
<p class="MsoNormal">
<div style="border:medium medium 1pt none none solid 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;">Menjulang di seberang bangunan ini adalah gereja Our Lady Before Tyn, yang langsung mengingatkan kita pada menara-menara yang ada dalam film Harry Potter. Bila belum puas dengan keindahahan Old Town sambil jalan kaki, kita bisa naik ke menara Old Town City Hall, dan melihat dinamika pusat kota tua ini dari ketinggian. Indah nian, layaknya negeri dongeng.</p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=143&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/14/melawat-ke-kota-negeri-dongeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/sais-menunggu-penumpang-di-old-town-square4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sais-menunggu-penumpang-di-old-town-square4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/salah-satu-ujung-charles-bridge-yang-dihiasi-menara.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">salah-satu-ujung-charles-bridge-yang-dihiasi-menara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/orloj.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">orloj</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/pengamen-di-atas-charles-bride.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pengamen-di-atas-charles-bride</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nirwana Biru di Timur Kalimantan</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 01:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[bekantan]]></category>
		<category><![CDATA[derawan]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kakaban]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[marine protected area]]></category>
		<category><![CDATA[penyu]]></category>
		<category><![CDATA[stingless jelly fish]]></category>
		<category><![CDATA[the nature conservancy]]></category>
		<category><![CDATA[tnc]]></category>
		<category><![CDATA[turis lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat. Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya&#8211;dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=124&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_125" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/kakaban4-fn.jpg"><img class="size-full wp-image-125" title="Dermaga di Pulau Kakaban" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/kakaban4-fn.jpg?w=500&#038;h=323" alt="Dermaga kayu di di Pulau Kakaban" width="500" height="323" /></a><p class="wp-caption-text">Dermaga kayu di Pulau Kakaban</p></div>
<p>Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat. Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya&#8211;dengan waspada mengawasi kapal kami yang melambat.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Mendekati mulut sungai, air coklat pelan-pelan berubah menjadi bening kebiruan, kami masuk ke kawasan kepulauan Derawan. Selain eksotisme namanya, kepulauan ini terkenal di dunia karena diberkati terumbu karang yang sangat indah dan kaya. Menurut hasil penelitian, kawasan ini punya 460 spesies terumbu karang dan 870 spesies ikan. Jumlah yang sangat tinggi, dan hanya dikalahkan oleh Raja Ampat di Papua. <span id="more-124"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div id="attachment_126" class="wp-caption alignright" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/ubur-edited-fn.jpg"><img class="size-full wp-image-126" title="Ubur-ubur tanpa sengat" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/ubur-edited-fn.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Ubur-ubur tanpa sengat" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu &quot;keajaiban&quot; danau yang ada di Pulau Kakaban adalah ribuan ubur-ubur tanpa sengat yang berenang tenang di sekeliling kita yang sedang snorkeling</p></div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Manta raksasa, penyu, lumba-lumba, barakuda dan kuda laut pigmi hanyalah sebagian kecil penduduk bawah laut di Derawan. Berkah alam yang berlimpah ini ringkih kalau tidak dijaga dengan baik. Karena itu, bekerja sama dengan pemerintah dan penduduk lokal, <span> </span>The Nature Conservancy (TNC) dan WWF, dua LSM penggiat konservasi menjadikan Derawan sebagai salah satu daerah tempat mereka melakukan kegiatan konservasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pulau purba</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kapal kami merapat di Pulau Kakaban, salah satu pulau di gugusan Derawan. Cagar alam ini diperkirakan terbentuk di ribuan tahun lalu ketika tanah terangkat sehingga air laut terjebak di tengah pulau. Setelah mendaki tangga kayu menembus hutan tipis yang tumbuh di atas karang, dari balik dedaunan tampak badan air yang luas, biru dan hening. Inilah Danau Kakaban. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pantulan gerombolan awan tipis di permukaan danau yang tenang semakin memperkuat keheningan danau ini. Di tengah keheningan,<span> </span>di dalam airnya tampak berdenyut-denyut ribuan mungkin jutaan ubur-ubur berwarna kekuning-kuningan. Kombinasi hening, belantara hijau, air yang tenang dan langit yang biru, membuat aku merasa berada di sebuah dunia antah barantah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Begitu mencebur ke dalam airnya yang bernuansa hijau, dunia unik ini semakin ajaib. Saya dikelilingi ribuan makhluk setengah lingkaran berwana kuning yang berenang ke segala arah. Syukurnya, ubur-ubur ini tidak punya sengat lagi, Ada yang memperkirakan, karena ribuan tahun tidak ada predator, ubur-ubur ini telah berevolusi menjadi <em>stingless</em> (tanpa sengat)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div id="attachment_128" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/tanganubur1.jpg"><img class="size-full wp-image-128" title="Ubur Kecil" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/tanganubur1.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Ubur Kecil" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Ini ubur yang berukuran kecil, yang besar bisa sebesar telapak tangan</p></div>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Penyu yang Setia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dalam perjalanan ini kami singgah di Payung-Payung, sebuah desa nelayan yang permai di Pulau Maratua. Sebuah pemandangan yang luar biasa melihat banyak penyu hijau dengan santai menikmati santapan rumput laut di pantai dangkal tepat di depan desa ini. Masyarakat disini sudah mafhum bahwa penyu adalah hewan yang dilindungi dan tidak boleh diburu atau diambil telurnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kami kemudian pindah ke pulau lain, Sangalaki. Di sini terdapat Stasiun Monitoring Penyu yang dikelola antara lain oleh pemerintah, masyarakat, TNC dan WWF. Derawan adalah tempat bertelur terbesar bagi penyu di Asia Tenggara. Saban malam selalu ada penyu betina yang mendarat untuk bertelur. Di Sangalaki saja setidaknya tercatat 350 ribu telur setiap tahunnya. Telur ditimbun dalam pasir, setelah beberapa hari telur akan menetas sendiri dan tukik (bayi penyu) lari ke laut untuk memulai hidupnya di alam bebas. Walau angkanya tinggi, yang kemudian berhasil menetas dan menjadi penyu dewasa hanya beberapa persen saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Uniknya, penyu punya kebiasaan untuk setia kembali bertelur di tempat dia ditetaskan, selama di tempat itu dia tidak diganggu. Perburuan penyu dan telurnya untuk konsumsi dan hiasan adalah tantangan bagi kelestarian reptil laut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Taman</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> Bawah Laut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Masih di kawasan Sangalaki, kami mencebur untuk menikmati keindahan bawah laut Derawan. Tempat kami snorkeling dikenal dengan sebutan Coral Garden. Sesuai namanya, pemandangan bawah lautnya benar-benar seperti taman bunga, tapi kuntum bunganya adalah terumbu karang yang aneka warna. Kumbang dan burungnya adalah ikan besar kecil yang berseliweran dengan tenang. Sebuah dunia indah bawah laut membuat semua rombongan tahan berlama-lama di dalam air.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Selain indah, terumbu karang adalah kunci keragaman hayati laut karena fungsinya sebagai tempat berkembang biaknya ikan. Sayangnya, terumbu karang kerap terancam oleh perilaku merusak seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun. Sekali dibom, terumbu akan rusak dan butuh sampai belasan tahun untuk kembali tumbuh. Akibatnya, tempat ikan berbiak dan mencari makan hancur. Seiring dengan itu, populasi ikan turun dan nelayan semakin sulit mendapatkan ikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Solusi yang ditawarkan 2 NGO konservasi ini adalah mengembangkan <em>marine protected area</em> atau kawasan perlindungan laut. Mereka bersama masyarakat dan pemerintah menetapkan zona laut untuk menangkap ikan dan yang zona yang tidak boleh diganggu karena diperuntukkan bagi pembiakan ikan. Secara alami, ikan yang berbiak di zona larang akan menyebar ke zona tangkap. Analoginya seperti menabung di bank, ikan di zona larangan adalah tabungan, dan ikan di zona tangkap adalah bunga tabungan. Sekali tabungan dikuras, maka tidak akan ada lagi hasil investasi yang bisa dipetik. Upaya menabung di alam inilah yang bisa terus menjaga penyu, lumba-lumba, manta raksasa, barakuda dan ratusan jenis ikan lainnya tetap lestari nirwana biru Derawan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><br />
<strong>Tempat yang penting dikunjungi: </strong><span>Danau Kakaban, Desa Payung-Payung, Stasiun Monitoring Penyu, dan berbagai site snorkeling dan diving</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Penginapan: </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ada</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> beberapa pilihan penginapan. Bisa tinggal di hotel yang ada di Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau. Bisa juga tinggal di guest house di Sangalaki atau beberapa hotel yang ada di kawasan Derawan</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Transportasi: </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Karena Derawan ada di laut lepas, tidak ada jalan lain selain memakai kapal. Sebaiknya menyewa speedboat bersama teman traveling lain. Kalau memakai pesawat dari Jakarta, kita akan mendarat di Balikpapan. Dari sini dilanjutkan dengan pesawat ke Tanjung Redeb. Perjalanan Balikpapan ke Tj Redeb sekitar satu jam. Tentunya lakukan reservasi jauh hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Waktu kami traveling: </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">April 2008. Waktu yang disarankan 2-3 hari. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Suhu: </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ini wisata bahari. Siapkan topi, kaos lengan panjang, sun screen, kalau Anda keberatan kulit agak menghitam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Perkiraan biaya: </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Akomodasi, makan, transportasi, oleh-oleh, dll. Bagian ini akan diisi oleh Yayi nanti</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">
<a href='http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/kakaban4-fn/' title='Dermaga di Pulau Kakaban'><img width="150" height="97" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/kakaban4-fn.jpg?w=150&#038;h=97" class="attachment-thumbnail" alt="Dermaga kayu di di Pulau Kakaban" title="Dermaga di Pulau Kakaban" /></a>
<a href='http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/ubur-edited-fn/' title='Ubur-ubur tanpa sengat'><img width="150" height="112" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/ubur-edited-fn.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Ubur-ubur tanpa sengat" /></a>
<a href='http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/tanganubur/' title='Ubur Kecil'><img width="150" height="112" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/tanganubur.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Salah satu ubur yang berukuran kecil" title="Ubur Kecil" /></a>
<a href='http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/tanganubur1/' title='Ubur Kecil'><img width="150" height="112" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/tanganubur1.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Ubur Kecil" /></a>
</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=124&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/12/01/nirwana-biru-di-timur-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/kakaban4-fn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dermaga di Pulau Kakaban</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/ubur-edited-fn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ubur-ubur tanpa sengat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/tanganubur1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ubur Kecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jurassic Park of Indonesia</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/25/menjelajah-kerajaan-sang-naga/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/25/menjelajah-kerajaan-sang-naga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 15:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[diving indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dragon]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan hemat]]></category>
		<category><![CDATA[komodo]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[pulau rinca]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>
		<category><![CDATA[the nature conservancy]]></category>
		<category><![CDATA[tnc]]></category>
		<category><![CDATA[turis lokal]]></category>
		<category><![CDATA[world heritage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[












&#8220;Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia&#8221;, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo? Reptil besar yang menjulur-julurkan lidah bercabangnya mencari mangsa? Setidaknya itulah yang muncul di kepala kami ketika pertama berkunjung ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini. Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=106&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_111" class="wp-caption alignnone" style="width: 358px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/komodo-150v2s.jpg"><img class="size-full wp-image-111" title="komodo-150v2s" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/komodo-150v2s.jpg?w=348&#038;h=480" alt="Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo" width="348" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo</p></div>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">&#8220;Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia&#8221;, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo? Reptil besar yang menjulur-julurkan lidah bercabangnya mencari mangsa? Setidaknya itulah yang muncul di kepala kami ketika pertama berkunjung ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini. Tapi rupanya Kepulauan Komodo tidak hanya karnivora purba itu, melainkan sebuah paket ekowisata darat dan bawah laut yang begitu menawan.<span id="more-106"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Bertolak dari Jakarta pagi-pagi, menjelang siang kami mendarat di Denpasar. Lantas berganti pesawat menuju Labuan Bajo, Manggarai Barat. Ini adalah akses udara paling dekat ke Komodo. Dari Labuan Bajo, wisatawan bisa naik speed boat ke Pulau Komodo atau Pulau Rinca, dua pulau utama yang dihuni Komodo. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Pesona Komodo langsung dimulai ketika kami masih melayang di udara. Dari jendela pesawat, terlihat gugusan pulau yang diapit pulau Flores dan Sumbawa ini didominasi warna rumput savana yang menguning dan tanah merah kering. Uniknya, pulau-pulau tandus ini dilingkari pantai dan laut yang indah. Di beberapa pulau ini hidup sekitar 2500 ekor hewan yang dikenal di luar negeri dengan nama yang sangar, Komodo dragon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_110" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_1141s.jpg"><img class="size-full wp-image-110" title="img_1141s" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_1141s.jpg?w=500&#038;h=333" alt="Trekking di savana. Seperti tidak berada di Indonesia" width="500" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Trekking di savana. Seperti tidak berada di Indonesia</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Terletak di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Komodo (TNK) didirikan pada tahun 1980 untuk melestarikan binatang langka Komodo (Varanus komodoensis) dan<span> </span>keanekaragaman hayati darat dan laut kawasan ini. Sebagai pengakuan dunia atas kekayaan alam ini, <span> </span>kawasan seluas 1.817 km2 ini dikukuhkan sebagai Cagar Manusia dan Biosfir serta Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada tahun 1986.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tujuan kami yang pertama adalah pintu masuk ke Taman Nasional Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca. Alam di Loh Buaya sangat berbeda dibanding wilayah Indonesia kebanyakan. Ke mana pun mata memandang, terlihat bukit-bukit kecil yang didominasi rumput dan semak yang menguning di musim kering. Lazimnya savana, tidak banyak pohon yang tumbuh di sini. Di beberapa bagian menjulang pohon lontar secara bergerombol. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Setelah membayar tiket dan sumbangan untuk konservasi, seorang petugas TNK akan mendampingi turis melintasi trek yang telah disediakan untuk menikmati alam savana dan tentu saja melihat komodo di alam liar mereka. Setiap petugas membawa tongkat kayu berukuran 2 meteran dengan ujung bercabang dua sebagai senjata kalau ada komodo yang mengganggu. Dengan teknik yang tepat, sodokan ujung tongkat ke bahu komodo akan membuat hewan ini mundur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_118" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/asuhadik-fn.jpg"><img class="size-full wp-image-118" title="asuhadik-fn" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/asuhadik-fn.jpg?w=500&#038;h=324" alt="Seorang anak mengasuh adik-adiknya di kampung nelayan di Komodo. " width="500" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang anak mengasuh adik-adiknya di kampung nelayan di Komodo. </p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Di kawasan ini Komodo adalah raja rantai makanan karena tidak punya pemangsa. Mereka memangsa apa saja, mulai dari kerbau liar, rusa, termasuk bahkan anak komodo dan komodo dewasa. Lidahnya yang super sensitif bisa menangkap bau darah dari jarak lebih dari satu kilometer. Gayanya menangkap mangsa adalah dengan bermalas-malasan seperti tidak peduli, tapi begitu mangsa mendekat, secepat kilat mereka menyerang. Bila mangsa belum lumpuh dalam serangan pertama, air liurnya yang mengandung bakteri mematikan membuat mangsa yang sudah dilukai lama-lama akan lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_112" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/48-fuadi-komodocropbigs1.jpg"><img class="size-full wp-image-112" title="48-fuadi-komodocropbigs1" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/48-fuadi-komodocropbigs1.jpg?w=500&#038;h=357" alt="Komodo dragon" width="500" height="357" /></a><p class="wp-caption-text">Komodo dragon</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Selain itu, kami juga mengunjungi Loh Liang di Pulau Komodo. Selain hewan komodo, di pulau ini kita bisa melihat berbagai jenis burung liar seperti kakak tua jambul kuning sampai burung gosong. Di sini fasilitas turis mulai dari kamar kecil, toko cenderamata sampai ruang selamat datang sangat bagus dan bersih, didominasi unsur kayu bergaya minimalis. Tidak kalah dengan fasilitas turis luar negeri. Fasilitas ini dibangun atas kerjasama NGO konservasi, The Nature Conservancy (TNC) dengan TNK dan pemerintah melalui PT Putri Naga Komodo. Kerjasama ini diharapkan bisa melestarikan alam Komodo yang kaya tapi juga bisa membangun ekoturisme yang mandiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Selain pesona darat, alam bawah laut Komodo sangat mempesona. Menurut hasil penelitian TNC yang sudah lama membantu konservasi daerah ini, keanekaragaman hayati dan terumbu karang kepulauan ini sangat kaya. Paling tidak ditemukan lebih dari 1.000 spesies ikan, 385 spesies terumbu karang, 70 spesies sepon dan 16 spesies paus dan lumba-lumba.Tidak heran kalau Komodo menjadi salah satu lokasi selam terbaik di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Berbekal peralatan snorkling, kami mencebur di Pantai Merah. Tiba-tiba kita merasa berada di dunia lain. Ikan dalam berbagai rupa, ukuran dan warna berseliweran santai di sekitar kita. Sementara itu terumbu karang dengan segala bentuk yang unik membuat kami betah berlama-lama memandang surga bawah air ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Di kawasan Taman Nasional ini tinggal sekitar 4.000 penduduk yang tersebar di empat area pemukiman (Komodo, Rinca, Kerora, dan Papagaran). Semua kampung-kampung ini telah ada jauh sebelum tahun 1980, saat di mana area ini dideklarasikan sebagai Taman Nasional. Kebanyakan adalah nelayan yang berasal dari Bima (Sumbawa), Manggarai, Flores Selatan, dan Sulawesi Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_141" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/pkomodo-fn.jpg"><img class="size-full wp-image-141" title="pkomodo-fn" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/pkomodo-fn.jpg?w=500&#038;h=341" alt="Kawasan Komodo menyajikan warna-warna alam yang kontras mulai dari langit biru, laut biru kehijauan, ilalang menguning, tanah merah." width="500" height="341" /></a><p class="wp-caption-text">Kawasan Komodo menyajikan warna-warna alam yang kontras mulai dari langit biru, laut biru kehijauan, ilalang menguning, tanah merah.</p></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Bersama penduduk inilah pemerintah, Taman Nasional dan TNC bekerjasama untuk menjaga kekayaan alam Komodo. Tantangannya beragam mulai dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan pariwisata tidak terkendali sampai teknik penangkapan ikan yang merusak, mulai dari bom ikan, penggunaan pukat harimau, dan penangkapan yang berlebihan. Sekali ekosistem ini rusak, akan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk memulihkan kerajaan indah sang naga ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tempat yang penting dikunjungi di Komodo: Loh Liang di Pulau Komodo dan Loh Buaya di Pulau Rinca. Bagi yang senang diving atau snorkeling, banyak sekali site yang indah untuk dinikmati. Pemandu turis di Labuan Bajo bisa menunjukkan tempat yang tepat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Penginapan: </strong>Banyak penginapan yang tersedia di Labuhan Bajo. Bahkan tahun ini telah berdiri sebuah hotel berbintang 4 di kota ini.http://www.balihotelsdiscount.com/hotel_Bintang_Flores_Hotel_373_Flores_Island_33.html</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Sebagai alternative, ada juga bungalow di Pulau Rinca, atau sekalian ingin pengalaman yang berbeda, bisa menyewa kapal yang sudah dilengkapi dengan kamar untuk menginap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Transportasi: </strong>Sebaiknya mereservasi pesawat dari Denpasar ke Labuhan Bajo beberapa hari sebelumnya, karena penerbangan terbatas dan penumpang cukup banyak. Tiketnya sekitar 600 ribu. Sedangkan untuk mencapai Pulau Komodo dari Labuhan Bajo, cara terbaik adalah menyewa speedboat.  Selain itu bisa juga menumpang boat umum yang dipakai masyarakat sekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Berikut ini info detil dari www.gokomodo.org</span></p>
<p>While most visitors enter Komodo National Park through the gateway city of Labuan Bajo in the west of Flores or occasionally Bima in eastern Sumbawa, the departure point for your trip is actually Denpasar, Bali.</p>
<p><strong><span class="style2">By Air:</span></strong></p>
<p>Both Labuan Bajo and Bima are  serviced by regularly scheduled flights from Bali.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Denpasar- Labuan Bajo<br />
</span><em>Flight Time: 90 minutes</em></p>
<p>1.         INDONESIA AIR TRANSPORT (IAT)<br />
DPS – LBJ: 10.00 &#8211; 11.30 (daily flight)<br />
LBJ &#8211; DPS: 11.00 &#8211; 12.30 (daily flight)<br />
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,800,000</p>
<p>2.         MERPATI NUSANTARA<br />
DPS – LBJ: 10.00 – 11.35 (every Monday, Tuesday, Thursday and Saturday)<br />
LBJ – DPS: 12.05 – 13.40 (every Monday, Tuesday, Thursday and Saturday)<br />
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,815,000</p>
<p>3.        TRANS NUSA<br />
DPS – LBJ: 09.00 &#8211; 10.22 (daily flight)<br />
LBJ – DPS: 11.00 &#8211; 12.22 (daily flight)<br />
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,840,000</p>
<p><em>Note: the flight schedule and  ticket prices may change with or without prior notice</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Denpasar-Bima<br />
</span><em>Flight time: 50 minutes.</em></p>
<p>1.         MERPATI NUSANTARA<br />
DPS – BIMA: 10.40 – 11.30 (daily flight)<br />
BIMA  &#8211; DPS: 12.00 – 12.50 (daily flight)</p>
<p>Return ticket (as of 10/6/06):  Rp. 932.000.00</p>
<p><em>Note: the flight schedule and  ticket prices may change with or without prior notice</em></p>
<p><span class="style2">By Land:</span></p>
<p>The gateway cities of Labuan Bajo and Bima are connected to Denpasar, Bali by overland buses. Note that this is a long and arduous option, though travelling overland in Indonesia can be a rewarding way of becoming acquainted with the country.</p>
<p class="bodiii style3"><strong>By Sea (ferry):</strong></p>
<p><em>Travel time:  approximately 36 hours</em></p>
<p>The gateway cities of Labuan Bajo and Bima are also connected to  Denpasar, Bali by inter-island ferry.</p>
<p>Contact the Indonesia Sea Transportation Company (PELNI) at Jalan Raya Kuta No. 299, Tuban &#8211; Bali (Tel: 0361 &#8211; 763 963) to reserve a seat on the <em>KM. Tilong Kabila</em>, which departs Benoa  Port, Bali at 9am and arrives in Labuan Bajo around 10pm the next day.</p>
<p><strong>Benoa-Bima-Labuan Bajo<br />
</strong>Fortnightly (every two weeks) on Saturdays: 09.00-20.00 (next  day).<br />
One-way ticket (as of 10/6/06) from Rp. 187,500 (economy) &#8211; Rp.  570,000.00 (Class I)</p>
<p><strong>Labuan Bajo-Bima-Benoa<br />
</strong>Fortnightly (every two weeks) on Thursdays: 08.00-11.00  (next day).<br />
One-way ticket (as of 10/6/06) from Rp. 187,500 (economy) &#8211; Rp.  570,000.00 (Class I)</p>
<p><em>Note: the ferry schedule and  ticket prices may change without prior notice</em></p>
<p><span class="style3"><strong>By Sea  (live-aboard):</strong></span></p>
<p>Komodo National Park is serviced by a wide range of live-aboard operators, with return packages to Komodo National Park from a variety of departure points, including Bali, Lombok, Bima and Labuan Bajo. Many but not all of these are specialized dive operations. Charter prices vary considerably depending on facilities, capacity and levels of luxury, from around $200 to $10,000 a night. Packages of varying lengths are also available and are invariably more economical.</p>
<p class="style3"><strong>From Gateway  Towns to Komodo National Park (KNP)</strong></p>
<p>You can easily organize a shared boat charter by local boat from either ports at Labuan Bajo or Bima  (Sape) to the two major points of access in the Park: Loh Liang (on Komodo Island) or Loh Buaya (on Rinca Island).</p>
<p>Charter  price (as of 10/6/06) &#8211; excluding meals, KNP entrance fee etc:<br />
Labuan  Bajo: KNP: Rp. 1,200,000 per boat / day (max. capacity 12 people)<br />
Bima  (Sape): KNP: Rp. 3,000,000 per boat / 2 days/1 night (max. capacity 15 people)</p>
<p><em>Note: the charter prices may  change with or without prior notice</em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Waktu kami traveling: </strong>Pertengahan Januari 2008. Waktu yang disarankan 2-3 hari. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Suhu: </strong>Hampir sepanjang tahun, matahari memancar benderang di sini, sehingga suhu cukup panas dan suasana kering. Siapkan topi, kaos lengan panjang, sun screen, kalau Anda keberatan kulit agak menghitam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Oleh-oleh: </strong>Tenun ikat, patung kayu komodo, dan aksesoris mutiari<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><strong>Perkiraan biaya: </strong>Akomodasi, makan, transportasi, oleh-oleh, dll. Bagian ini akan diisi oleh Yayi nanti</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Informasi lebih lanjut: </span></p>
<p><cite>www.<strong>komodo</strong>nationalpark.org</cite></p>
<p>www.gokomodo.org</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tulisan yang mirip pernah dimuat di Majalah Nebula tahun 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=106&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/25/menjelajah-kerajaan-sang-naga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/komodo-150v2s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">komodo-150v2s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_1141s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">img_1141s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/asuhadik-fn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">asuhadik-fn</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/48-fuadi-komodocropbigs1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">48-fuadi-komodocropbigs1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/pkomodo-fn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pkomodo-fn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jet Li Berlidah Arab-XIAN</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/jet-lee-berlidah-arab/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/jet-lee-berlidah-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 15:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[cina muslim]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan hemat]]></category>
		<category><![CDATA[masjid cina]]></category>
		<category><![CDATA[muslim cina]]></category>
		<category><![CDATA[traveling couple]]></category>
		<category><![CDATA[traveling murah]]></category>
		<category><![CDATA[turis indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[xian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[ 







XIAN, CINA
“Antum tatakallam arabiah”, tanya sebuah suara berbahasa Arab di belakang kami. Kupingku bagai berdiri mendengarnya. Kami sedang berada di tengah pasar tradisional di Xian, salah satu kota tertua di Cina. Bagaimana mungkin? Kontan aku membalikkan badan dengan penasaran. Seorang pemuda Cina berambut lurus pendek dengan mata sipit tersenyum. Arti pertanyaannya adalah: apakah aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=47&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_52" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_53151.jpg"><img class="size-medium wp-image-52" title="img_53151" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_53151.jpg?w=300&#038;h=200" alt="img_53151" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Yayi mengagumi 30 juz Al Quran dan terjemahan berbahasa Cina yang dipahat rapi di dinding kayu masjid.</p></div>
<div id="attachment_55" class="wp-caption alignright" style="width: 295px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_5307.jpg"><img class="size-medium wp-image-55" title="img_5307" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_5307.jpg?w=285&#038;h=190" alt="img_5307" width="285" height="190" /></a><p class="wp-caption-text">Bagian mihrab Masjid Xian dan karpet birunya yang adem</p></div>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">XIAN, CINA</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Antum tatakallam arabiah”</em>, tanya sebuah suara berbahasa Arab di belakang kami. Kupingku bagai berdiri mendengarnya. Kami sedang berada di tengah pasar tradisional di Xian, salah satu kota tertua di Cina. Bagaimana mungkin? Kontan aku membalikkan badan dengan penasaran. Seorang pemuda Cina berambut lurus pendek dengan mata sipit tersenyum. Arti pertanyaannya adalah: apakah aku bisa bahasa Arab. <em>“Naam, atakallam arabiah”</em>, sahutku mengiyakan sambil terheran-heran kok bisa orang mirip Jet Li ini bisa bahasa Arab. Matanya berbinar-binar mendengar jawabanku.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pemuda berumur 20-an tahun yang dipanggil Ali ini adalah satu dari ribuan penduduk Xian yang beragama Islam. Dia kebetulan tamatan sebuah madrasah yang mengajarkan bahasa Arab. Dengan pertolongan dia kami menemukan Masjid Agung Xian yang dikepung labirin lorong pasar. Dengan bantuan dia pula aku dan Yayi bisa mendapat tur khusus sampai masuk dan shalat di dalam masjid unik ini. Seorang bapak tua tinggi besar berjenggot lebat menjaga pintu masjid dan menyetop semua turis yang ingin masuk, termasuk kami. Tapi begitu Ali menjelaskan kami Muslim, senyum lebarnya merekah. Dengan sebuah “Assalamualaikum”, kami diterima bagai saudara. Walau bisa masuk, Yayi tetap harus shalat di tempat khusus perempuan, di bangunan terpisah. Sementara turis lain melihat kami dengan iri karena mendapat previlege ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_132" class="wp-caption alignnone" style="width: 437px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5288.jpg"><img class="size-full wp-image-132" title="Ibu Hajjah dari Xian" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5288.jpg?w=427&#038;h=640" alt="Seorang ibu hajjah xian yang sangat antusias menyambut Yayi di masjidnya." width="427" height="640" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang ibu hajjah xian yang sangat antusias menyambut Yayi di masjidnya.</p></div>
<p class="MsoNormal">Masjid Xian adalah sebuah karya arsitektur indah hasil campuran bangunan tradisional Cina yang beratap melentik-lentik dengan sentuhan Islam. Kompleks ini punya beberapa gapura dan courtyard yang memanjang mengarah ke bangunan masjid. Kalau tidak membaca ada tulisan Arab dan melihat mihrab, sulit membedakan masjid ini dengan pagoda. Uniknya lagi, masjid tua ini terbuat dari kayu, seluruh dinding dalam berukirkan ayat Al-Quran 30 juz. Sementara dinding bagian bawah bertuliskan terjemahan Al-Quran, tentu dengan huruf Cina juga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_133" class="wp-caption alignnone" style="width: 437px"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5290.jpg"><img class="size-full wp-image-133" title="gerbang masjid" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5290.jpg?w=427&#038;h=640" alt="Gerbang Masjid Xian" width="427" height="640" /></a><p class="wp-caption-text">Gerbang Masjid Xian</p></div>
<p class="MsoNormal">Sehabis aku menunaikan shalat jama’ takdim Zuhur dan Ashar, Ali dengan bersemangat mengajak kami melihat pekarangan masjid yang luas. Tidak hanya itu, “Ziarah ila baitii ya Ahmad?”, ucapnya mengundang kami ke rumahnya. Jadilah sore itu sebuah pengalaman yang sungguh spesial: menjadi tamu sebuah keluarga Xian, yang beretnis cina, beragama Islam dan bisa berbahasa Arabnya. Kami dijamu ibunya yang hanya bisa ngomong Cina bagai keluarga dekat dengan teh khas cina yang diseduh hangat-hangat dan mengepul harum, secawan manisan buah, sepiring kacang maroni, dan sebuah film dari VCD yang memperlihatkan perkawinan kakak perempuan Ali dalam adat Cina Islam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sebelum pamit, aku sempat meminta alamat dan nomor telpon kepada Ali yang sudah haji ini, agar nanti bisa saling kontak. Dia menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat lengkap. Tapi semuanya dalam karakter Cina. Entah bagaimana nanti aku menulis surat kepadanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Tempat yang penting dikunjungi di Xian (bagian ini ditulis Yayi): </strong>Banyak orang yang menjadikan Xi&#8217;an sebagai tempat transit sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mereka melihat Army of Terracota Warrior. Padahal XI&#8217;an merupakan salah satu kota kuno terpenting dunia. Xi&#8217;an merupakan awal/akhir perjalanan Silk Road yang terkenal itu. Makanya tak heran di sinilah menurut sejumlah literatur asal muasal Islam masuk ke Cina.</p>
<p class="MsoNormal">Secara umum, tourist attraction di Xi&#8217;an dapat dibagi menjadi dua, yaitu tempat-tempat di dalam (inside) City Walls dan di luar (outside) City Walls. Ada banyak tempat yang bagus untuk dikunjungi, tempat-tempat yang saya tuliskan di bawah ini adalah tempat-tempat yang must-see sites.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;">Inside City Walls</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">1. City Walls &#8212; Tembok kota Xi&#8217;an hanyalah satu dari segelintir tembok kata yang masih tegak berdiri secara utuh. Tembok yang berdiri saat ini merupakan peninggalan dinasti Ming, yang dibangun sekitar tahun 1300an. Mungkin karena sejak kecil saya sering menonton film-film silat yang salah satu adegannya adalah perang dimana para prajurit kota berusaha menghadang musuh untuk memasuki tembok kata, jadi tanpa sadar sudah ada obsesi dari kecil bahwa kalau suatu saat saya berkesempatan pergi ke Cina, saya harus naik ke tembok kota dan re-live the moment. Dan beruntung untuk saya karena City Walls Xi&#8217;an ini dapat kita naiki dan bahkan kita bisa mengelilinginya. Optionnya bisa dengan jalan kaki (sekitar 4 jam), naik sepeda (sekitar 1-2 jam) dan menyewa &#8220;becak&#8221; Cina. Kami memilih pilihan ke-2, karena kebetulan kaki saya sudah terlalu capek untuk berjalan setelah beberapa hari sebelumnya diajak berkeliling Shanghai. Selain itu karena udara dan angin dingin yang menusuk kulit (saat itu mendung pula sehingga suhu udara hanya berkisar 8-10 derajat Celcius saja), kami rasa bersepeda adalah pilihan yang tepat.. dan ternyata kami tidak salah karena selain kami bisa mengurangi beban kaki, bersepeda juga memungkinkan kita untuk berhenti kapan saja dan dimana saja kita mau, tentunya untuk memotret dan menghidupkan lagi image-image adegan perang di film silat yang saya tonton ketika jaman SD dulu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">2. Drum Tower dan Bell Tower &#8212; Seperti di kota-kota kuno penting lainnya di Cina (seperti di Beijing misalnya), kedua tower ini umumnya wajib ada. Bell Tower terletak persis di tengah-tengah atau pusat kota Xi&#8217;an. Jadi kalau kita berdiri di tower ini kita bisa melihat ke-4 penjuru Xi&#8217;an yang dibatasi oleh City Walls tadi. Di Bell Tower ini dulunya digantung sebuah lonceng besar yang dibunyikan saat fajar datang, sementara di Drum Tower yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari Bell Tower, setiap senja  drum besar akan dimainkan. Ini gunanya sebagai tanda waktu matahari terbit dan terbenam, mungkin karena ketika dibangun di abad 1500 belum dikenal jam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">3. Muslim Quarter &#8212; Letaknya persis di belakang atau di sebelah utara Drum Tower. Di sinilah sejak beberapa ratus tahun yang lalu suku minoritas Hui yang beragama Islam menetap. Dari semua guide book keluaran Barat yang saya baca, semuanya merekomendasikan Muslim Quarter sebagai tempat makan dan tempat belanja yang lively dan murah meriah. Sementara alasan utama kami adalah menikmati &#8220;keajaiban&#8221; adanya beradaban Muslim di negara Cina. Semakin malam, &#8220;kehidupan&#8221; di Muslim Quarer ini makin vibrant, mulai dari yang berjualan mainan anak-anak, menjual buah, kacang-kacangan, suvenir sampai tempat-tempat makan yang  selalu penuh dengan pengunjung. Buat kami yang paling utama adalah perasaan tenang karena untuk pertama kalinya semenjak menginjakkan kaki di Cina, kami tidak perlu berpikir mau makan apa dan dimana, karena semua tempat makan di sini ditanggung halal (Yippeee!!) dan tentunya murah meriah..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">4. Great Mosque &#8212; rasanya tidak perlu saya jelaskan lagi, karena Abang sudah menjelaskan panjang lebar di atas. Satu yang unik adalah menemukan mesjid ini ditengah labirin toko-toko suvenir di Muslim Quarter. Tapi kalau saya pikir-pikir, seandainya mesjid raya ini gampang kita temukan, tentunya pengalaman unik bertemu Ali dan keluarganya tidak akan pernah kita alami.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;">Outside City Walls</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:464541570; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:726043650 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Army of Terracotta Warrior &#8212; Tempat inilah      yang menjadikan Xi&#8217;an banyak dikunjungi orang lagi setelah sebelumnya      terlupakan. Ini semuanya berkat temuan tidak sengaja seorang petani yang      berniat menggali sumur di tahun 1974. Yang dia temukan bukanlah air, malah      ruang bawah tanah. Sejauh ini ditemukan lebih dari 7000 army yang dibuat      dari tanah liat dengan ukuran tubuh manusia sebenarnya dari 3 pit yang      ada. Semuanya berada dalam formasi siap untuk berperang, sesuai peran      masing-masing, siaga dalam formasi barisan lengkap dengan kereta kuda,      tameng dll, ada yang sedang berdiskusi strategi perang di ruang dalam, ada      juga yang sedang berdoa demi suksesnya perang. Yang benar-benar bikin kita      berdua jaw-dropped adalah fakta bahwa ini semua dibuat atas perintah      seorang raja yang bernama Qing Shi Huang, yang ingin dalam kuburannya      disiapkan pasukan terracotta. Kita berdua tidak habis berpikir, kok ada      raja selalim itu ya.. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Big Goose Pagoda &#8212; Buat kami berdua, yang      spesial dari Pagoda ini bukanlah Pagodanya itu sendiri. Yang membuat kami      akan selalu ingat akan tempat ini adalah 2 hal. Pertama karena di halaman      depan Big Goose Pagoda terdapat dancing fountain show yang menurut      sejumlah guide book adalah yang terbesar di Asia. Pertunjukan ini bisa      dinikmati siapa saja secara gratis setiap malam. Show dimulai jam 8 malam      saat musim dingin, sementara saat musim panas, lebih malam lagi, sekitar      jam 8.30 atau jam 9, dan berlangsung selama setengah jam. Yang kedua adalah      kesenangan kami menonton para lokal memainkan kuas mereka membuat      kaligrafi di lantai batu pelataran Pagoda. Uniknya yang asik membuat      kaligrafi bukan saja para orang tua, tapi juga anak-anak muda. Modal      mereka cuma kuas besar dan seember air. Satu hal yang kami belajar dari      orang Cina, adalah rasa kagum karena ternyata mereka memang benar-benar      mencintai budaya leluhur mereka.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Tomb atau kuburan para raja. </span><span lang="SV">Di sekitar Xian, terdapat ratusan      kuburan para raja dari berbagai dinasti. Jadi kalau tertarik jadi Indiana      Jones atau dulunya anak arkelogi atau antrop silakan persiapkan waktu      untuk pergi ke salah satu tomb. Sayangnya karena waktu kita di Xian      singkat kita tidak berkunjung ke salah satu tomb, jadi maaf tidak bisa      kasih rekomendasi yang akurat. </span>Singkatnya, banyak bangunan bersejarah yang bisa dinikmati di Xian yang berumur lebih dari 3000 tahun ini. Kota ini jauh lebih tua dari Beijing dan pernah menjadi ibu negara berbagai dinasti Cina.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Tempat makan:</strong> Muslim Quarter. Di jalan sepanjang sekitar 500meter ini disesaki berbagai rumah makan. Semua makanan di daerah ini halal. Di pintu setiap restoran tertulis jelas, matham islamy, artinya rumah makan Islam. Makanan lezat mulai dari sate kambing sampai sop daging bisa disantap dengan harga murah. Selain itu, tidak sulit menemukan restoran halal di berbagai tempat di kota seperti Xian, Beijing dan Shanghai,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Penginapan: </strong>Kami menginap di Xian Youth Hostel, terletak di dekat Watson’s, sekitar 500 meter dari Bell Tower dan Muslim Quarter. Bagi yang traveling sebagai couple, tempat ini pas, karena punya kamar untuk berdua. Sementara yang traveling sendiri atau berombongan, tempat ini punya kamar untuk sampai 6 orang. Pemesanan melalui internet. Staff sangat friendly dan bisa berbahasa Inggris dengan baik.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Transportasi: </strong>Cara paling gampang adalah dengan taksi. Tarifnya murah, sekali naik sekitar 6 yuan. Tapi taksi tiba-tiba penuh begitu rush hour dan weekend. Naik bus umumnya yang bersih juga boleh dicoba, tarifnya 2 yuan ke hampir semua tujuan, asal tahu tempat berhentinya. Sementara untuk melihat objek wisata seperti Terracotta Warriors yang terletak sekitar 1 jam dari Xian, sebaiknya menggunakan tur yang disediakan dihampir semua hotel. Biasanya kita dijemput pagi dan diantar kembali menjelang sore. Tur ini sudah termasuk guide berbahasa Inggris, tiket masuk, dan jalan-jalan tambahan ke workshop pengrajin tembikar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><strong>Waktu kami traveling: </strong>Pertengahan November 2008. Waktu yang disarankan 2-3 hari. Satu hari penuh sudah habis mengunjungi Terracotta Warriors. Sisanya untuk melihat objek di kotanya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><strong>Perkiraan biaya: </strong>Akomodasi, makan, transportasi, oleh-oleh, dll. Bagian ini akan diisi oleh Yayi nanti</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><strong>Kurs:</strong> I yuan sama dengan 1500 rupiah<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><strong>Suhu: </strong>Sekitar 15-20 derajat celcius. Cukup dingin buat kebanyakan orang Indonesia. Jadi kalau traveling di waktu ini, siapkan jaket.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> Fuadi dan Yayi<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=47&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/jet-lee-berlidah-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_53151.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">img_53151</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/img_5307.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">img_5307</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5288.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ibu Hajjah dari Xian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/12/img_5290.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gerbang masjid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harta Karun di Balik Rak Mahoni-LONDON</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/balada-joyce/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/balada-joyce/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 09:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[LONDON.
RAMBUT senjanya telah aus melawan waktu, memucat seputih salju. Agak melorot dari batang hidungnya, lensa tebal kacamata diapit frame plastik yang mulai lekang. Kulitnya pun telah tergerus zaman, keriput di sudut sana dan sini.
Melihat dandanannya, rasanya waktu mengkerut puluhan tahun ke belakang. Konservatif, tua, khas perempuan Inggris dari abad silam. Sweater wool cokelat yang bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=19&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>LONDON.</p>
<p>RAMBUT senjanya telah aus melawan waktu, memucat seputih salju. Agak melorot dari batang hidungnya, lensa tebal kacamata diapit frame plastik yang mulai lekang. Kulitnya pun telah tergerus zaman, keriput di sudut sana dan sini.</p>
<p>Melihat dandanannya, rasanya waktu mengkerut puluhan tahun ke belakang. Konservatif, tua, khas perempuan Inggris dari abad silam. Sweater wool cokelat yang bukan baru lagi membungkus sampai setengah leher. Tidak cukup melawan bekunya udara, tubuhnya masih dibungkus lagi sebuah jaket biru berbahan katun. Rok sederhana berwarna senada terjuntai hampir mata kaki. Sepatu kulit usang berwarna legam, berdekak-dekak setiap dia melangkah. Sebuah tas pinggang tua dari kulit yang disamak, melingkari pinggangnya. Dari dalamnya terdengar gemerincing beberapa receh Inggris.</p>
<p>Tua, tapi, matanya masih lincah, mengekor telunjuknya yang menapaki baris demi baris di halaman buku yang dipegangnya. Joyce, perempuan tua ini sedang membaca, tepatnya membaca cepat, skimming, buku-bukunya, untuk kemudian diklasifikasikan menurut tema. Dan ini dilakukannya 6 hari dalam seminggu, dari matahari mulai merangkak naik sampai kemudian terbenam. Dia adalah pemilik Two Jays, toko buku bekas di sudut jalan Edgware yang senyap, di pinggiran London.</p>
<p>Koleksi buku Joyce bahkan lebih renta lagi. Di dalam tokonya, buku dari berbagai zaman bertumpuk tidak begitu rapi. Bahkan ada yang dibiarkan teronggok seperti bukit kecil. Sebuah buku dari 2 abad lalu terduduk di rak kayu, sampul kulitnya yang coklet legam bagai meranggas, melepuh di beberapa tempat. Di halaman pertamanya ada goresan tinta dari bekas pemiliknya, tanggal pembelian buku: 12 January 1872.</p>
<p>Sudah 30 tahun ibu dua orang anak ini berjualan buku bekas. Di mulai bersama dengan suaminya James, kini dia tinggal dibantu anaknya, Mark, setelah suaminya tiba-tiba meninggal kena serangan jantung. &#8220;Siang dia masih bekerja di toko seperti biasa, tiba di rumah dia kena serangan jantung dan langsung meninggal. Bahkan saya tidak sempat membawanya ke rumah sakit&#8221;, kenang Joyce dengan suara ditegar-tegarkan. Matanya meredup mencoba menelan duka, lalu terdiam sesaat sebelum menghela napas panjang. Buru-buru dia menambahkan, &#8220;Tapi bercerita tentang almarhum suami saya kepada pelanggan, membantu saya melewati masa-masa berkabung&#8221;, aku Joyce sambil ujung-ujung jemarinya mengusap foto James.</p>
<p>Foto ini tercetak lekat di sebuah plakat kayu mahoni, di sebelahnya, sebuah lempeng perunggu berwarna keruh bertuliskan &#8220;In Loving Memory of James&#8221;. Di bagian atasnya, sekuntum bunga mawar plastik tersemat. &#8220;Saya cinta buku dan saya suka langganan toko saya, mereka orang-orang yang baik dan perhatian&#8221;, kilah Joyce ketika ditanya kenapa dia masih terus berjualan buku tua, ketika daerah tempat jualannya telah dikepung berbagai toko buku kaliber Waterstone&#8217;s dan Borders.</p>
<p>Walau tidak ramai, selalu ada saja yang mampir ke toko Two Jays. Pengunjungnya beragam: nenek uzur yang berjalan terbungkuk-bungkuk, anak laki-laki belasan tahun memakai kippot, sebentuk kopiah kecil orang Yahudi, seorang pria setengah umur dengan rambut perak setengah berdiri, mengingatkan kepada Einstein, seorang laki-laki berbaju sekenanya dan selalu menggumamkan UFO, tsunami dan pesawat yang bisa melesat di atas air.</p>
<p>Mereka datang dan pergi, sebagian hanya melongok sana melongok sini, tapi tidak sedikit yang pulang membuku 2-3 buku. Harga buku disini berkisar dari 1-6 pounds, sebagian kecil buku langka ada yang sampai seharga 80 pounds. Toh, tampaknya tidak banyak duit yang masuk kocek Joyce. &#8220;Tapi kami masih bisa mencukup-cukupkan untuk hidup&#8221;, kata Joyce.</p>
<p>Joyce dan Two Jays hanyalah satu contoh toko buku bekas yang semakin hari jumlahnya semakin menyusut di Inggris (lihat entry yang lain berjudul Honesty Bookshop). Selain terjepit masalah cash flow yang tidak lancar, ada juga yang gulung tikar karena tidak mampu melawan toko buku on-line yang lebih gampang diakses, tanpa harus susah payah datang ke toko buku. &#8220;Tapi lain rasanya ke toko buku bekas, seperti berburu harta karun. Di sini tertimbun buku dari berabad-abad silam sampai yang terbit baru-baru ini. So, you never know what you are going to find&#8221;, kilah seorang pelanggan yang telah belasan tahun selalu datang ke Two Jays, ketika ditanya mengapa dia masih menyempatkan diri ke toko ini.</p>
<p>Entah sampai berapa tahun lagi, tampaknya toko buku bekas masih akan terus bisa bertahan ditengah persaingan bisnis dengan toko-toko buku besar. Buku tua, selain harta intelektual, menjadi harta tak ternilai harganya bagi golongan orang yang menyebut dirinya kolektor buku. Selama mereka masih ada, selama itu pula bisnis Joyce masih berputar. Karena itulah Joyce di usia senjanya masih akan terus setia membuka pintu toko setiap pagi dan menutupnya, begitu matahari masuk peraduan. &#8220;This my way of life&#8221;, ujar Joyce. Tegar, tanpa menyesal.</p>
<p>Fuadi-March 24, 2005 (sebelumnya dimuat di www.fuadi.multiply.com)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=19&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/balada-joyce/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bulutangkis dan Pacu Anjing-BIRMINGHAM</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/bulutangkis-dan-pacu-anjing/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/bulutangkis-dan-pacu-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 09:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[BIRMINGHAM
&#8220;Badminton is not for us. We are here to see the dog festival&#8221;, jawab seorang nenek sambil terkekeh dan bangga memamerkan pin anjing keemasan yang bergayut di kerah jaketnya. Nenek ini bahkan mungkin tidak tahu apa itu bulutangkis. Padahal seminggu ini sebuah turnamen bulutangkis prestijius dan tertua di dunia sedang berlangsung di stadion NIA, tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=16&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>BIRMINGHAM</p>
<p>&#8220;Badminton is not for us. We are here to see the dog festival&#8221;, jawab seorang nenek sambil terkekeh dan bangga memamerkan pin anjing keemasan yang bergayut di kerah jaketnya. Nenek ini bahkan mungkin tidak tahu apa itu bulutangkis. Padahal seminggu ini sebuah turnamen bulutangkis prestijius dan tertua di dunia sedang berlangsung di stadion NIA, tak jauh dari hotel tempat dia menginap. Jangan heran, di negara pak Tony Blair, bulutangkis bukan olahraga kelas satu, jauh terseok di belakang popularitas sepakbola, tennis, bilyard, rugby atau bahkan dart. Betul, permainan melempar semacam anak panah kecil ke sasaran bundar yang digantung di dinding. Kerap ditemukan di kamar-kamar anak kos di tanah air, tapi disini malah jadi event yang disiarkan di TV nasional.</p>
<p>Ada yang ironis di dunia bulutangkis Inggris. Boleh bangga dengan turnamen All England yang telah ada sejak tahun 1899, tapi di dalam negeri sendiri, bulutangkis dilirik sebelah mata. Hal ini tercermin pula dari kurangnya antusiasme media melaporkan kejuaraan ini. Di Media Center All England, hanya segelintir wartawan yang hilir mudik, itu pun kebanyakan juru foto. Alhasil, berita turnamen ini pun hanya “nyempil” di sudut halaman koran-koran besar Inggris.</p>
<p>Singkat kata, di Indonesia bolehlah bulutangkis jadi salah satu primadona dunia olahraga, tapi di daratan Inggris dia tak lebih dari salah satu aktor pendukung.</p>
<p>Untungnya, ada yang agak berbeda dari turnamen All England tahun ini. Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini diboyong ke Birmingham tahun 1994, jumlah penonton mencapai rekor tertinggi yakni lebih dari 20.000 orang. Dan banyak diantara mereka adalah anak muda. Bahkan pada partai semifinal dan final, semua tiket ludes terjual habis. Antusiasme besar seperti ini dibutuhkan dunia bulutangkis Inggris untuk mendongkrak populeritas olahraga ini.</p>
<p>Tampaknya, semaraknya All England kali ini antara lain berkat prestasi mengkilat ganda campuran Inggris Nathan Robertson dan Gail Emms yang tahun ini berhasil menyabet juara All England di depan para pendukungnya. Peraih perak Olimpiade ini punya penampilan muda, enak dipandang dan energik. Tidak heran kalau menjadi daya tarik buat banyak penonton muda. Nathan berpostur tinggi dan atletis, lumayan ganteng, lengkap dengan rambut ikal yang menyuntai sampai bahu. Sedangkan Gail, seorang cewek blonde yang cukup atraktif, walau dari dekat tidak semenarik kalau lagi sibuk menepuk bulu angsa di lapangan. “Tolong dong mintain tanda tangan mereka di kertas ini”, pinta seorang kawan yang mungkin kesengsem dengan duo ini.</p>
<p>Panitia sadar kalau kesempatan ini tidak boleh disia-siakan untuk mendongkrak citra bulutangkis Inggris. Begitu usai selesai pertandingan final, penonton bisa bertemu langsung dengan idola mereka. Seorang anak kecil dengan rambut pirangnya yang berkuncir, malu-malu menyeret tas raketnya yang hampir sama tinggi dengan badannya. Sebuah spidol hitam disodorkan kepada Nathan, yang lalu menggoreskan tanda tangannya di tas itu. Di belakang gadis cilik ini, ratusan orang berbaris dengan sabar untuk bertemu idolanya. Selain memberi tanda tangan, foto bersama pun dilayani pasangan ini dengan ramah. Sebuah ajang promosi yang bagus untuk bulutangkis Inggris.</p>
<p>Badminton Association of England (BAofE), PBSI-nya Inggris juga mulai membenahi diri. Namanya yang agak bertele-tele, BaofE diganti menjadi Badminton England. Logo lamanya yang kaku digantikan dengan sebuah lambang baru yang sporty, sebuah gambar abstrak yang menyerupai shuttlecock merah. Lengkap pula dengan sebuah moto yang cukup seksi: Love it, Play it. Live it. Fasilitas latihan lengkap dibangun di Milton Keynes, Pemain muda mulai direkrut dari sekolah-sekolah, pelatih bahkan diimpor dari luar negeri. Rexy Mainaiky, mantan pebulutangkis andalan Indonesia sudah beberapa tahun melatih tim ganda Inggris. “Saya banyak belajar dari Rexy, apalagi orangnya penuh semangat”, ungkap Nathan kepada saya beberapa saat setelah memenangkan final.</p>
<p>Yang lumayan unik di dunia bulutangkis Inggris, olahraga ini didukung oleh para sukarelawan fanatik. Di turnamen All England saja: sebagian besar panitia adalah sukarelawan yang tidak dibayar sama sekali sehingga meringankan beban panitia. Mereka bertugas mulai dari sebagai penjaga karcis, hakim garis sampai manager informasi. Bahkan banyak yang sudah jadi relawan sejak puluhan tahun lalu. Mungkin resiko banyak sukarelawan yang terlibat di lapangan, kurangnya standardisasi kualitas, khususnya kalau sudah dalam posisi menentukan seperti hakim garis dan wasit.</p>
<p>Kalau si nenek pencinta anjing tadi tidak peduli dengan All England, tidak begitu halnya dengan banyak mahasiswa Indonesia di Inggris. Ima, seorang kawan di Norwich mengaku “bela-belain” menyewa sebuah minibus bersama belasan rekannya untuk menonton All England. Padahal mereka harus menyetir bolak-balik paling tidak selama 8 jam. “Untung yang bawa bus kami supir medan”, seloroh Ima sambil menunjuk seorang kawan lain, Bang Latief, yang siap-siap menyetir pulang ke Norwich lagi. Donke, bersama kawan-kawan PPI Birmingham bahkan mengorganisir pembelian tiket dan berhasil mengumpulkan sampai 200-an orang supporter. Tidak heran kalau di hari semifinal, dukungan buat tim Indonesia cukup hingar bingar terdengar di National Indoor Arena, Birmingham ini. Ah, jadi ingat sorak-sorai penonton di Istora Senayan.<br />
Sayang, pebulutangkis Indonesia kali ini prestasinya litak. Paling jauh hanya menggapai semifinal. Padahal, atlet Indonesia adalah salah satu &#8220;jualan&#8221; turnamen ini. Foto Taufik Hidayat dicetak di tengah poster All England 2005 untuk mempromosikan event ini. Sayang Taufik cedera beberapa hari sebelum hari keberangkatan ke Birmingham.</p>
<p>Fuadi-March 19, 2005 (sebelumnya dimuat di www.fuadi.multiply.com)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=16&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/bulutangkis-dan-pacu-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surga Buku yang Jujur-WALES</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/surga-buku-yang-jujur/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/surga-buku-yang-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 09:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duotravelers.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[
WALES
Hay-on-Wye sampe tahun 1960an sebenernya adalah sebuah kota kecil (town) di tapal batas Wales dan England. Nama kotanya sendiri adalah Hay yang artinya hedge atau fence, tapi karena letaknya di atas sungai Wye, makanya namanya menjadi Hay-on-Wye. Nama-nama kota di UK umumnya mirip2, makanya mereka membedakannya dengan nama sungai yang mengalir di kota itu. Contohnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=6&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="item_body" class="bodytext"><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay4.jpg"></a><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay31.jpg"><img class="size-full wp-image-29" title="hay31" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay31.jpg?w=300&#038;h=225" alt="hay31" width="300" height="225" /></a><img class="alignright size-medium wp-image-24" title="hay4" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay4.jpg?w=300&#038;h=225" alt="hay4" width="300" height="225" /></div>
<div class="bodytext">WALES</div>
<div class="bodytext">Hay-on-Wye sampe tahun 1960an sebenernya adalah sebuah kota kecil (town) di tapal batas Wales dan England. Nama kotanya sendiri adalah Hay yang artinya hedge atau fence, tapi karena letaknya di atas sungai Wye, makanya namanya menjadi Hay-on-Wye. Nama-nama kota di UK umumnya mirip2, makanya mereka membedakannya dengan nama sungai yang mengalir di kota itu. Contohnya Newcastle, minimal ada 2 kota yang namanya Newcastle. Untuk membedakannya, salah satunya adalah Newcastle-upon-Tyne, kota Newcastle yang kita kenal di Indonesia yang punya club sepakbola Newcastle United dengan Alan Shearer-nya. Contoh lain adalah kota kelahiran Shakespeare, yang letaknya cuma sekitar 1,5 jam dari London (antara London dan Birmingham), namanya Stratford, tapi karena letaknya di atas sungai Avon, makanya namanya jadi Stratford-upon-Avon.Balik ke Hay, kota ini bener2 tiny dan bisa dibilang in the middle of nowhere karena memang ga deket kota2 besar. Jarak dari London sekitar 400km, mungkin kota besar yang terdekat cuma Cardiff (ibukota Wales) yang jaraknya juga sekitar 1 jam driving dari Hay ato Birmingham sekitar 1,5 jam driving. Tapi seorang yang bernama Richard Booth, yang lulusan Oxford University, berhasil mengubah image Hay dari small ordinary town menjadi the first and the biggest book town in the world.</div>
<div id="item_body" class="bodytext">
<p>Ceritanya Richard Booth ini membeli sebuah gedung tua bekas fire station di Hay. Dia memang dari dulu sudah suka buku dan sempat kerja di toko buku di London khususnya dibagian second-hand book section. Begitu liat ada gedung tua yang bisa available, dia beli gedung itu dan dia ubah jadi toko buku 2nd hand. Berhubung dia pernah kerja di second-hand book section di toko buku besar di London, dia kenal contact sana sini. Jadi dia mulailah membangun toko bukunya, semakin banyak buku yang dia punya, dia beli space terus sampe akhirnya dia punya beberapa toko. Tapi bagaimana menarik pembeli buku untuk rela datang jauh2 ke Hay? Booth yang eksentrik ini punya trik, melalui media dia berkoar2 kalau Hay ingin melepaskan diri dari Wales dan menjadi negara sendiri, negara buku, bahkan sampai bikin paspor sendiri segala. Lalu Booth memproklamirkan dirinya menjadi raja, penduduknya antara lain jutaan buku dia itu. &#8220;Pemberontakan&#8221; yang jenaka ini menjadi berita dimana-mana, dan Hay semakin ramai dikunjungi. Dan akhirnya sampe sekarang Hay menjadi kota buku pertama dan terbesar di dunia, begitu menurut Guiness Book. Ada sekitar 36 toko buku di kota ini. Penduduk manusianya cuma 1500 orang, tapi penduduk bukunya sekarang sekitar 5 juta. Richard Booth sendiri punya 2 toko buku disana, salah satunya yang terbesar dengan koleksi sekitar 500 ribu buah. Orangnya entertaining banget, umurnya sekitar late 60s dan masih aktif kerja ngurusin toko bukunya. Dia sendiri yang masih handle purchasing. Kita sempet ketemu dan wawancara dia..</p>
<p>Hay jadinya kota yang unik, abis isinya toko buku melulu, dengan sebuah castle tua peninggalan abad 16 yang separuhnya udah jadi ruined (yang udah dibeli sama Richard Booth) dan disulap jadi toko bukunya.</p>
<p>Uniknya lagi, di beberapa tempat di pinggir jalan, tampak rak-rak buku berjejer tanpa ditungguin penjual. kalau mau beli, tinggal comot buku yang diinginkan, dan duitnya dimasukin ke kotak kayak celengan di dekat rak itu. Judulnya, Honesty Bookshoop. Dan toko ini buka 24 jam, 7 hari seminggu, dan dibiarkan terbuka terus. Kecuali kalau hujan deras, ditutupi plastik.</p>
<p>Lain hal yang menarik dari jalan-jalan ke daerah Wales adalah kita merasa sudah ada di negara lain, karena begitu masuk ke daerah Wales, semua papan pengumuman, termasuk sign di jalan2, udah dual languages, Welsh dan English&#8230; dan asli bahasa Wales ga ada mirip2nya sama bahasa Inggris. Bahkan BBC-nya pun berbahasa Welsh dengan subtitle English&#8230; padahal boleh dibilang ga ada physical borders antara Wales dan England.</p>
<p>Kita tadinya berniat pulang pergi aja, tapi ternyata karena perjalanan one-way aja udah makan waktu 4 jam, akhirnya kita memutuskan nginep. Kita nginep di B&amp;B di pusat kota Hay. Kalo di UK, jalan utama yang merupakan pusat kota disebut sebagai High Street.</p>
<p>Intinya sih B&amp;B yang kita nginep sebenernya rent a room di rumah orang local. Yang punya B&amp;B juga yang punya toko buku, jadi rumahnya bertingkat 2 1/2, lantai dasar jadi toko buku, lantai 2 jadi dapur dan ruang keluarga dan yang 1/2 alias attic adalah kamar tidur. 1 kamar untuk mereka dan 3 kamar lainnya disewain. Yang punya pensiunan, orangnya friendly, asli orang Welsh.</p></div>
<div class="bodytext"><img src="/DOCUME~1/afuadi/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></div>
<div class="bodytext">Yayi-March 8, 2005 (sebelumnya dimuat di www.fuadi.multiply.com)</div>
<div style="height:8px;"><!-- --></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=6&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/surga-buku-yang-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay31.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hay31</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/hay4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hay4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/afuadi/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>A Couple Who Travels Together Grows Together-JAKARTA</title>
		<link>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/hello-world/</link>
		<comments>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 08:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duotravelers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan hemat]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[liburan ke eropa]]></category>
		<category><![CDATA[muslim traveler]]></category>
		<category><![CDATA[traveling couple]]></category>
		<category><![CDATA[traveling murah]]></category>
		<category><![CDATA[turis indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[turis lokal]]></category>
		<category><![CDATA[turis muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA
Di sebuah majalah traveling, Budget Travel, edisi Oktober 2008, kami membaca sebuah quote menarik &#8220;a couple who travels together grows together&#8221;. Wah bener banget. Cocok dengan yang kami rasakan. Aku dan istriku, Yayi selalu berusaha traveling bersama sejak tahun 1999. Kesempatannya bermacam-macam, mulai dari liburan murni, business trip sampai sekolah. Sejauh ini kami beruntung dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=1&subd=duotravelers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/33.gif"><img class="size-full wp-image-82 alignright" title="33" src="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/33.gif?w=100&#038;h=100" alt="33" width="100" height="100" /></a>JAKARTA</p>
<p>Di sebuah majalah traveling, Budget Travel, edisi Oktober 2008, kami membaca sebuah quote menarik &#8220;a couple who travels together grows together&#8221;. Wah bener banget. Cocok dengan yang kami rasakan. Aku dan istriku, Yayi selalu berusaha traveling bersama sejak tahun 1999. Kesempatannya bermacam-macam, mulai dari liburan murni, business trip sampai sekolah. Sejauh ini kami beruntung dapat mengunjungi lebih dari 20 negara dan ratusan kota.</p>
<p>Kita pasangan traveler yang klop dan saling melengkapi. Sementara aku tidak suka dengan urusan pesan tiket dan reservasi, Yayi malah senang mengurus semuanya. Dia suka bingung mulai packing, aku ahli mengepak baju dengan ringkas ke koper. Kalau Yayi selalu siap dengan peta dan guide book, aku selalu dengan kamera. Tentu saja ada yang berbeda. Aku suka jalan melihat alam, Yayi lebih suka melihat kota dan peradaban. Tapi di sinilah seninya traveling sebagai couple. Itinerary kami diskusikan untuk mengakomodasi interest berdua.</p>
<p>Pertengahan November 2008, kawanku satu almamater, Hery Azwan, tiba-tiba mem-buzz di YM. &#8220;Wah, cerita perjalanan ente di multiply kalau dibuat buku juga menarik tuh bersama foto-fotonya yang ciamik&#8230;&#8221;, katanya. Wah ide yang menarik juga.</p>
<p>Nah, sebagai awalnya, penggalan cerita-cerita ini kami post di blog dulu. Isinya cerita ringan perjalanan kami backpacking sebagai couple, pasangan suami istri ke berbagai belahan dunia.  Rasanya tidak banyak cerita traveling sebagai pasangan. Selain itu kami juga ingin berbagi tips traveling hemat dan ekonomis. Apalagi Yayi rajin sekali mempersiapkan setiap rencana traveling kami mulai riset, tiket, reservasi dan lainnnya, dengan prinsip ekonomis.</p>
<p>Dan tidak kalah pentingnya berbagi pengalaman sebagai muslim traveler. Sejauh ini kami belum menemukan blog khusus membahas bagaimana muslim bisa traveling dengan nyaman ke berbagai negara yang tidak dominan Islam. Nyaman dalam arti bisa menikmati jalan-jalan, tapi juga tidak kesulitan mencari makanan dan minuman halal, menemukan masjid atau tempat shalat dan sebagainya. Alhamdulillah sejauh ini, kami tetap bisa menikmati traveling tanpa sulit mencari makanan halal dan tempat shalat.</p>
<p>Selamat menikmati dan kami tunggu komentar Anda.</p>
<p>salam</p>
<p>Fuadi dan Yayi-Nov 24, 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duotravelers.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duotravelers.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duotravelers.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duotravelers.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duotravelers.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duotravelers.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duotravelers.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duotravelers.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duotravelers.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duotravelers.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duotravelers.wordpress.com&blog=5627523&post=1&subd=duotravelers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duotravelers.wordpress.com/2008/11/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0d7e729abce125379d9229604cdffcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duotravelers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://duotravelers.files.wordpress.com/2008/11/33.gif" medium="image">
			<media:title type="html">33</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>