Melawat ke Kota Negeri Dongeng

Seorang sais menunggu penumpang di tengah kota tua Praha

Seorang sais menunggu penumpang di tengah kota tua Praha

Praha adalah surga bagi penikmat arsitektur. Kemana pun memandang, mata kami dimanjakan oleh keelokan seni bangunan yang bercorak Gothic, Bohemian dan Baroque. Horizon kota ini disesaki oleh menara-menara runcing, kubah-kubah bersepuh warna kehijauan dan genteng-genteng berwarna merah bata. Mirip negeri dongeng yang ada di buku cerita anak-anak zaman aku SD dulu.

Permukaan jalan, gang dan jembatan masih banyak yang dilapisi batu bersusun (cobbled street) seperti layaknya zaman mediaval. Memang sejarah Praha dimulai sejak 1000 tahun silam, ketika dinasti Bohemian mulai berkuasa di wilayah ini. Continue reading

Nirwana Biru di Timur Kalimantan

Dermaga kayu di di Pulau Kakaban

Dermaga kayu di Pulau Kakaban

Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat. Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya–dengan waspada mengawasi kapal kami yang melambat.

Mendekati mulut sungai, air coklat pelan-pelan berubah menjadi bening kebiruan, kami masuk ke kawasan kepulauan Derawan. Selain eksotisme namanya, kepulauan ini terkenal di dunia karena diberkati terumbu karang yang sangat indah dan kaya. Menurut hasil penelitian, kawasan ini punya 460 spesies terumbu karang dan 870 spesies ikan. Jumlah yang sangat tinggi, dan hanya dikalahkan oleh Raja Ampat di Papua. Continue reading

Jurassic Park of Indonesia

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

“Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia”, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo? Reptil besar yang menjulur-julurkan lidah bercabangnya mencari mangsa? Setidaknya itulah yang muncul di kepala kami ketika pertama berkunjung ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini. Tapi rupanya Kepulauan Komodo tidak hanya karnivora purba itu, melainkan sebuah paket ekowisata darat dan bawah laut yang begitu menawan. Continue reading

Jet Li Berlidah Arab-XIAN

img_53151

Yayi mengagumi 30 juz Al Quran dan terjemahan berbahasa Cina yang dipahat rapi di dinding kayu masjid.

img_5307

Bagian mihrab Masjid Xian dan karpet birunya yang adem

XIAN, CINA

“Antum tatakallam arabiah”, tanya sebuah suara berbahasa Arab di belakang kami. Kupingku bagai berdiri mendengarnya. Kami sedang berada di tengah pasar tradisional di Xian, salah satu kota tertua di Cina. Bagaimana mungkin? Kontan aku membalikkan badan dengan penasaran. Seorang pemuda Cina berambut lurus pendek dengan mata sipit tersenyum. Arti pertanyaannya adalah: apakah aku bisa bahasa Arab. “Naam, atakallam arabiah”, sahutku mengiyakan sambil terheran-heran kok bisa orang mirip Jet Li ini bisa bahasa Arab. Matanya berbinar-binar mendengar jawabanku.

Pemuda berumur 20-an tahun yang dipanggil Ali ini adalah satu dari ribuan penduduk Xian yang beragama Islam. Dia kebetulan tamatan sebuah madrasah yang mengajarkan bahasa Arab. Dengan pertolongan dia kami menemukan Masjid Agung Xian yang dikepung labirin lorong pasar. Dengan bantuan dia pula aku dan Yayi bisa mendapat tur khusus sampai masuk dan shalat di dalam masjid unik ini. Seorang bapak tua tinggi besar berjenggot lebat menjaga pintu masjid dan menyetop semua turis yang ingin masuk, termasuk kami. Tapi begitu Ali menjelaskan kami Muslim, senyum lebarnya merekah. Dengan sebuah “Assalamualaikum”, kami diterima bagai saudara. Walau bisa masuk, Yayi tetap harus shalat di tempat khusus perempuan, di bangunan terpisah. Sementara turis lain melihat kami dengan iri karena mendapat previlege ini.

Masjid Xian adalah sebuah karya arsitektur indah hasil campuran bangunan tradisional Cina yang beratap melentik-lentik dengan sentuhan Islam. Kompleks ini punya beberapa gapura dan courtyard yang memanjang mengarah ke bangunan masjid. Kalau tidak membaca ada tulisan Arab dan melihat mihrab, sulit membedakan masjid ini dengan pagoda. Uniknya lagi, masjid tua ini terbuat dari kayu, seluruh dinding dalam berukirkan ayat Al-Quran 30 juz. Sementara dinding bagian bawah bertuliskan terjemahan Al-Quran, tentu dengan huruf Cina juga.

Gerbang Masjid Xian

Gerbang Masjid Xian

Sehabis aku menunaikan shalat jama’ takdim Zuhur dan Ashar, Ali dengan bersemangat mengajak kami melihat pekarangan masjid yang luas. Tidak hanya itu, “Ziarah ila baitii ya Ahmad?”, ucapnya mengundang kami ke rumahnya. Jadilah sore itu sebuah pengalaman yang sungguh spesial: menjadi tamu sebuah keluarga Xian, yang beretnis cina, beragama Islam dan bisa berbahasa Arabnya. Kami dijamu ibunya yang hanya bisa ngomong Cina bagai keluarga dekat dengan teh khas cina yang diseduh hangat-hangat dan mengepul harum, secawan manisan buah, sepiring kacang maroni, dan sebuah film dari VCD yang memperlihatkan perkawinan kakak perempuan Ali dalam adat Cina Islam.

Sebelum pamit, aku sempat meminta alamat dan nomor telpon kepada Ali yang sudah haji ini, agar nanti bisa saling kontak. Dia menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat lengkap. Tapi semuanya dalam karakter Cina. Entah bagaimana nanti aku menulis surat kepadanya.

Tempat yang penting dikunjungi di Xian (bagian ini ditulis Yayi): Banyak orang yang menjadikan Xi’an sebagai tempat transit sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mereka melihat Army of Terracota Warrior. Padahal XI’an merupakan salah satu kota kuno terpenting dunia. Xi’an merupakan awal/akhir perjalanan Silk Road yang terkenal itu. Makanya tak heran di sinilah menurut sejumlah literatur asal muasal Islam masuk ke Cina.

Secara umum, tourist attraction di Xi’an dapat dibagi menjadi dua, yaitu tempat-tempat di dalam (inside) City Walls dan di luar (outside) City Walls. Ada banyak tempat yang bagus untuk dikunjungi, tempat-tempat yang saya tuliskan di bawah ini adalah tempat-tempat yang must-see sites.

Inside City Walls


1. City Walls — Tembok kota Xi’an hanyalah satu dari segelintir tembok kata yang masih tegak berdiri secara utuh. Tembok yang berdiri saat ini merupakan peninggalan dinasti Ming, yang dibangun sekitar tahun 1300an. Mungkin karena sejak kecil saya sering menonton film-film silat yang salah satu adegannya adalah perang dimana para prajurit kota berusaha menghadang musuh untuk memasuki tembok kata, jadi tanpa sadar sudah ada obsesi dari kecil bahwa kalau suatu saat saya berkesempatan pergi ke Cina, saya harus naik ke tembok kota dan re-live the moment. Dan beruntung untuk saya karena City Walls Xi’an ini dapat kita naiki dan bahkan kita bisa mengelilinginya. Optionnya bisa dengan jalan kaki (sekitar 4 jam), naik sepeda (sekitar 1-2 jam) dan menyewa “becak” Cina. Kami memilih pilihan ke-2, karena kebetulan kaki saya sudah terlalu capek untuk berjalan setelah beberapa hari sebelumnya diajak berkeliling Shanghai. Selain itu karena udara dan angin dingin yang menusuk kulit (saat itu mendung pula sehingga suhu udara hanya berkisar 8-10 derajat Celcius saja), kami rasa bersepeda adalah pilihan yang tepat.. dan ternyata kami tidak salah karena selain kami bisa mengurangi beban kaki, bersepeda juga memungkinkan kita untuk berhenti kapan saja dan dimana saja kita mau, tentunya untuk memotret dan menghidupkan lagi image-image adegan perang di film silat yang saya tonton ketika jaman SD dulu.

2. Drum Tower dan Bell Tower — Seperti di kota-kota kuno penting lainnya di Cina (seperti di Beijing misalnya), kedua tower ini umumnya wajib ada. Bell Tower terletak persis di tengah-tengah atau pusat kota Xi’an. Jadi kalau kita berdiri di tower ini kita bisa melihat ke-4 penjuru Xi’an yang dibatasi oleh City Walls tadi. Di Bell Tower ini dulunya digantung sebuah lonceng besar yang dibunyikan saat fajar datang, sementara di Drum Tower yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari Bell Tower, setiap senja  drum besar akan dimainkan. Ini gunanya sebagai tanda waktu matahari terbit dan terbenam, mungkin karena ketika dibangun di abad 1500 belum dikenal jam.

3. Muslim Quarter — Letaknya persis di belakang atau di sebelah utara Drum Tower. Di sinilah sejak beberapa ratus tahun yang lalu suku minoritas Hui yang beragama Islam menetap. Dari semua guide book keluaran Barat yang saya baca, semuanya merekomendasikan Muslim Quarter sebagai tempat makan dan tempat belanja yang lively dan murah meriah. Sementara alasan utama kami adalah menikmati “keajaiban” adanya beradaban Muslim di negara Cina. Semakin malam, “kehidupan” di Muslim Quarer ini makin vibrant, mulai dari yang berjualan mainan anak-anak, menjual buah, kacang-kacangan, suvenir sampai tempat-tempat makan yang  selalu penuh dengan pengunjung. Buat kami yang paling utama adalah perasaan tenang karena untuk pertama kalinya semenjak menginjakkan kaki di Cina, kami tidak perlu berpikir mau makan apa dan dimana, karena semua tempat makan di sini ditanggung halal (Yippeee!!) dan tentunya murah meriah..

4. Great Mosque — rasanya tidak perlu saya jelaskan lagi, karena Abang sudah menjelaskan panjang lebar di atas. Satu yang unik adalah menemukan mesjid ini ditengah labirin toko-toko suvenir di Muslim Quarter. Tapi kalau saya pikir-pikir, seandainya mesjid raya ini gampang kita temukan, tentunya pengalaman unik bertemu Ali dan keluarganya tidak akan pernah kita alami.

Outside City Walls

  1. Army of Terracotta Warrior — Tempat inilah yang menjadikan Xi’an banyak dikunjungi orang lagi setelah sebelumnya terlupakan. Ini semuanya berkat temuan tidak sengaja seorang petani yang berniat menggali sumur di tahun 1974. Yang dia temukan bukanlah air, malah ruang bawah tanah. Sejauh ini ditemukan lebih dari 7000 army yang dibuat dari tanah liat dengan ukuran tubuh manusia sebenarnya dari 3 pit yang ada. Semuanya berada dalam formasi siap untuk berperang, sesuai peran masing-masing, siaga dalam formasi barisan lengkap dengan kereta kuda, tameng dll, ada yang sedang berdiskusi strategi perang di ruang dalam, ada juga yang sedang berdoa demi suksesnya perang. Yang benar-benar bikin kita berdua jaw-dropped adalah fakta bahwa ini semua dibuat atas perintah seorang raja yang bernama Qing Shi Huang, yang ingin dalam kuburannya disiapkan pasukan terracotta. Kita berdua tidak habis berpikir, kok ada raja selalim itu ya..
  2. Big Goose Pagoda — Buat kami berdua, yang spesial dari Pagoda ini bukanlah Pagodanya itu sendiri. Yang membuat kami akan selalu ingat akan tempat ini adalah 2 hal. Pertama karena di halaman depan Big Goose Pagoda terdapat dancing fountain show yang menurut sejumlah guide book adalah yang terbesar di Asia. Pertunjukan ini bisa dinikmati siapa saja secara gratis setiap malam. Show dimulai jam 8 malam saat musim dingin, sementara saat musim panas, lebih malam lagi, sekitar jam 8.30 atau jam 9, dan berlangsung selama setengah jam. Yang kedua adalah kesenangan kami menonton para lokal memainkan kuas mereka membuat kaligrafi di lantai batu pelataran Pagoda. Uniknya yang asik membuat kaligrafi bukan saja para orang tua, tapi juga anak-anak muda. Modal mereka cuma kuas besar dan seember air. Satu hal yang kami belajar dari orang Cina, adalah rasa kagum karena ternyata mereka memang benar-benar mencintai budaya leluhur mereka.
  3. Tomb atau kuburan para raja. Di sekitar Xian, terdapat ratusan kuburan para raja dari berbagai dinasti. Jadi kalau tertarik jadi Indiana Jones atau dulunya anak arkelogi atau antrop silakan persiapkan waktu untuk pergi ke salah satu tomb. Sayangnya karena waktu kita di Xian singkat kita tidak berkunjung ke salah satu tomb, jadi maaf tidak bisa kasih rekomendasi yang akurat. Singkatnya, banyak bangunan bersejarah yang bisa dinikmati di Xian yang berumur lebih dari 3000 tahun ini. Kota ini jauh lebih tua dari Beijing dan pernah menjadi ibu negara berbagai dinasti Cina.

Tempat makan: Muslim Quarter. Di jalan sepanjang sekitar 500meter ini disesaki berbagai rumah makan. Semua makanan di daerah ini halal. Di pintu setiap restoran tertulis jelas, matham islamy, artinya rumah makan Islam. Makanan lezat mulai dari sate kambing sampai sop daging bisa disantap dengan harga murah. Selain itu, tidak sulit menemukan restoran halal di berbagai tempat di kota seperti Xian, Beijing dan Shanghai,

Penginapan: Kami menginap di Xian Youth Hostel, terletak di dekat Watson’s, sekitar 500 meter dari Bell Tower dan Muslim Quarter. Bagi yang traveling sebagai couple, tempat ini pas, karena punya kamar untuk berdua. Sementara yang traveling sendiri atau berombongan, tempat ini punya kamar untuk sampai 6 orang. Pemesanan melalui internet. Staff sangat friendly dan bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Transportasi: Cara paling gampang adalah dengan taksi. Tarifnya murah, sekali naik sekitar 6 yuan. Tapi taksi tiba-tiba penuh begitu rush hour dan weekend. Naik bus umumnya yang bersih juga boleh dicoba, tarifnya 2 yuan ke hampir semua tujuan, asal tahu tempat berhentinya. Sementara untuk melihat objek wisata seperti Terracotta Warriors yang terletak sekitar 1 jam dari Xian, sebaiknya menggunakan tur yang disediakan dihampir semua hotel. Biasanya kita dijemput pagi dan diantar kembali menjelang sore. Tur ini sudah termasuk guide berbahasa Inggris, tiket masuk, dan jalan-jalan tambahan ke workshop pengrajin tembikar.

Waktu kami traveling: Pertengahan November 2008. Waktu yang disarankan 2-3 hari. Satu hari penuh sudah habis mengunjungi Terracotta Warriors. Sisanya untuk melihat objek di kotanya.

Perkiraan biaya: Akomodasi, makan, transportasi, oleh-oleh, dll. Bagian ini akan diisi oleh Yayi nanti

Kurs: I yuan sama dengan 1500 rupiah

Suhu: Sekitar 15-20 derajat celcius. Cukup dingin buat kebanyakan orang Indonesia. Jadi kalau traveling di waktu ini, siapkan jaket.

Fuadi dan Yayi

Harta Karun di Balik Rak Mahoni-LONDON

LONDON.

RAMBUT senjanya telah aus melawan waktu, memucat seputih salju. Agak melorot dari batang hidungnya, lensa tebal kacamata diapit frame plastik yang mulai lekang. Kulitnya pun telah tergerus zaman, keriput di sudut sana dan sini.

Melihat dandanannya, rasanya waktu mengkerut puluhan tahun ke belakang. Konservatif, tua, khas perempuan Inggris dari abad silam. Sweater wool cokelat yang bukan baru lagi membungkus sampai setengah leher. Tidak cukup melawan bekunya udara, tubuhnya masih dibungkus lagi sebuah jaket biru berbahan katun. Rok sederhana berwarna senada terjuntai hampir mata kaki. Sepatu kulit usang berwarna legam, berdekak-dekak setiap dia melangkah. Sebuah tas pinggang tua dari kulit yang disamak, melingkari pinggangnya. Dari dalamnya terdengar gemerincing beberapa receh Inggris.

Tua, tapi, matanya masih lincah, mengekor telunjuknya yang menapaki baris demi baris di halaman buku yang dipegangnya. Joyce, perempuan tua ini sedang membaca, tepatnya membaca cepat, skimming, buku-bukunya, untuk kemudian diklasifikasikan menurut tema. Dan ini dilakukannya 6 hari dalam seminggu, dari matahari mulai merangkak naik sampai kemudian terbenam. Dia adalah pemilik Two Jays, toko buku bekas di sudut jalan Edgware yang senyap, di pinggiran London.

Koleksi buku Joyce bahkan lebih renta lagi. Di dalam tokonya, buku dari berbagai zaman bertumpuk tidak begitu rapi. Bahkan ada yang dibiarkan teronggok seperti bukit kecil. Sebuah buku dari 2 abad lalu terduduk di rak kayu, sampul kulitnya yang coklet legam bagai meranggas, melepuh di beberapa tempat. Di halaman pertamanya ada goresan tinta dari bekas pemiliknya, tanggal pembelian buku: 12 January 1872.

Sudah 30 tahun ibu dua orang anak ini berjualan buku bekas. Di mulai bersama dengan suaminya James, kini dia tinggal dibantu anaknya, Mark, setelah suaminya tiba-tiba meninggal kena serangan jantung. “Siang dia masih bekerja di toko seperti biasa, tiba di rumah dia kena serangan jantung dan langsung meninggal. Bahkan saya tidak sempat membawanya ke rumah sakit”, kenang Joyce dengan suara ditegar-tegarkan. Matanya meredup mencoba menelan duka, lalu terdiam sesaat sebelum menghela napas panjang. Buru-buru dia menambahkan, “Tapi bercerita tentang almarhum suami saya kepada pelanggan, membantu saya melewati masa-masa berkabung”, aku Joyce sambil ujung-ujung jemarinya mengusap foto James.

Foto ini tercetak lekat di sebuah plakat kayu mahoni, di sebelahnya, sebuah lempeng perunggu berwarna keruh bertuliskan “In Loving Memory of James”. Di bagian atasnya, sekuntum bunga mawar plastik tersemat. “Saya cinta buku dan saya suka langganan toko saya, mereka orang-orang yang baik dan perhatian”, kilah Joyce ketika ditanya kenapa dia masih terus berjualan buku tua, ketika daerah tempat jualannya telah dikepung berbagai toko buku kaliber Waterstone’s dan Borders.

Walau tidak ramai, selalu ada saja yang mampir ke toko Two Jays. Pengunjungnya beragam: nenek uzur yang berjalan terbungkuk-bungkuk, anak laki-laki belasan tahun memakai kippot, sebentuk kopiah kecil orang Yahudi, seorang pria setengah umur dengan rambut perak setengah berdiri, mengingatkan kepada Einstein, seorang laki-laki berbaju sekenanya dan selalu menggumamkan UFO, tsunami dan pesawat yang bisa melesat di atas air.

Mereka datang dan pergi, sebagian hanya melongok sana melongok sini, tapi tidak sedikit yang pulang membuku 2-3 buku. Harga buku disini berkisar dari 1-6 pounds, sebagian kecil buku langka ada yang sampai seharga 80 pounds. Toh, tampaknya tidak banyak duit yang masuk kocek Joyce. “Tapi kami masih bisa mencukup-cukupkan untuk hidup”, kata Joyce.

Joyce dan Two Jays hanyalah satu contoh toko buku bekas yang semakin hari jumlahnya semakin menyusut di Inggris (lihat entry yang lain berjudul Honesty Bookshop). Selain terjepit masalah cash flow yang tidak lancar, ada juga yang gulung tikar karena tidak mampu melawan toko buku on-line yang lebih gampang diakses, tanpa harus susah payah datang ke toko buku. “Tapi lain rasanya ke toko buku bekas, seperti berburu harta karun. Di sini tertimbun buku dari berabad-abad silam sampai yang terbit baru-baru ini. So, you never know what you are going to find”, kilah seorang pelanggan yang telah belasan tahun selalu datang ke Two Jays, ketika ditanya mengapa dia masih menyempatkan diri ke toko ini.

Entah sampai berapa tahun lagi, tampaknya toko buku bekas masih akan terus bisa bertahan ditengah persaingan bisnis dengan toko-toko buku besar. Buku tua, selain harta intelektual, menjadi harta tak ternilai harganya bagi golongan orang yang menyebut dirinya kolektor buku. Selama mereka masih ada, selama itu pula bisnis Joyce masih berputar. Karena itulah Joyce di usia senjanya masih akan terus setia membuka pintu toko setiap pagi dan menutupnya, begitu matahari masuk peraduan. “This my way of life”, ujar Joyce. Tegar, tanpa menyesal.

Fuadi-March 24, 2005 (sebelumnya dimuat di http://www.fuadi.multiply.com)

Bulutangkis dan Pacu Anjing-BIRMINGHAM

BIRMINGHAM

“Badminton is not for us. We are here to see the dog festival”, jawab seorang nenek sambil terkekeh dan bangga memamerkan pin anjing keemasan yang bergayut di kerah jaketnya. Nenek ini bahkan mungkin tidak tahu apa itu bulutangkis. Padahal seminggu ini sebuah turnamen bulutangkis prestijius dan tertua di dunia sedang berlangsung di stadion NIA, tak jauh dari hotel tempat dia menginap. Jangan heran, di negara pak Tony Blair, bulutangkis bukan olahraga kelas satu, jauh terseok di belakang popularitas sepakbola, tennis, bilyard, rugby atau bahkan dart. Betul, permainan melempar semacam anak panah kecil ke sasaran bundar yang digantung di dinding. Kerap ditemukan di kamar-kamar anak kos di tanah air, tapi disini malah jadi event yang disiarkan di TV nasional.

Ada yang ironis di dunia bulutangkis Inggris. Boleh bangga dengan turnamen All England yang telah ada sejak tahun 1899, tapi di dalam negeri sendiri, bulutangkis dilirik sebelah mata. Hal ini tercermin pula dari kurangnya antusiasme media melaporkan kejuaraan ini. Di Media Center All England, hanya segelintir wartawan yang hilir mudik, itu pun kebanyakan juru foto. Alhasil, berita turnamen ini pun hanya “nyempil” di sudut halaman koran-koran besar Inggris.

Singkat kata, di Indonesia bolehlah bulutangkis jadi salah satu primadona dunia olahraga, tapi di daratan Inggris dia tak lebih dari salah satu aktor pendukung.

Untungnya, ada yang agak berbeda dari turnamen All England tahun ini. Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini diboyong ke Birmingham tahun 1994, jumlah penonton mencapai rekor tertinggi yakni lebih dari 20.000 orang. Dan banyak diantara mereka adalah anak muda. Bahkan pada partai semifinal dan final, semua tiket ludes terjual habis. Antusiasme besar seperti ini dibutuhkan dunia bulutangkis Inggris untuk mendongkrak populeritas olahraga ini.

Tampaknya, semaraknya All England kali ini antara lain berkat prestasi mengkilat ganda campuran Inggris Nathan Robertson dan Gail Emms yang tahun ini berhasil menyabet juara All England di depan para pendukungnya. Peraih perak Olimpiade ini punya penampilan muda, enak dipandang dan energik. Tidak heran kalau menjadi daya tarik buat banyak penonton muda. Nathan berpostur tinggi dan atletis, lumayan ganteng, lengkap dengan rambut ikal yang menyuntai sampai bahu. Sedangkan Gail, seorang cewek blonde yang cukup atraktif, walau dari dekat tidak semenarik kalau lagi sibuk menepuk bulu angsa di lapangan. “Tolong dong mintain tanda tangan mereka di kertas ini”, pinta seorang kawan yang mungkin kesengsem dengan duo ini.

Panitia sadar kalau kesempatan ini tidak boleh disia-siakan untuk mendongkrak citra bulutangkis Inggris. Begitu usai selesai pertandingan final, penonton bisa bertemu langsung dengan idola mereka. Seorang anak kecil dengan rambut pirangnya yang berkuncir, malu-malu menyeret tas raketnya yang hampir sama tinggi dengan badannya. Sebuah spidol hitam disodorkan kepada Nathan, yang lalu menggoreskan tanda tangannya di tas itu. Di belakang gadis cilik ini, ratusan orang berbaris dengan sabar untuk bertemu idolanya. Selain memberi tanda tangan, foto bersama pun dilayani pasangan ini dengan ramah. Sebuah ajang promosi yang bagus untuk bulutangkis Inggris.

Badminton Association of England (BAofE), PBSI-nya Inggris juga mulai membenahi diri. Namanya yang agak bertele-tele, BaofE diganti menjadi Badminton England. Logo lamanya yang kaku digantikan dengan sebuah lambang baru yang sporty, sebuah gambar abstrak yang menyerupai shuttlecock merah. Lengkap pula dengan sebuah moto yang cukup seksi: Love it, Play it. Live it. Fasilitas latihan lengkap dibangun di Milton Keynes, Pemain muda mulai direkrut dari sekolah-sekolah, pelatih bahkan diimpor dari luar negeri. Rexy Mainaiky, mantan pebulutangkis andalan Indonesia sudah beberapa tahun melatih tim ganda Inggris. “Saya banyak belajar dari Rexy, apalagi orangnya penuh semangat”, ungkap Nathan kepada saya beberapa saat setelah memenangkan final.

Yang lumayan unik di dunia bulutangkis Inggris, olahraga ini didukung oleh para sukarelawan fanatik. Di turnamen All England saja: sebagian besar panitia adalah sukarelawan yang tidak dibayar sama sekali sehingga meringankan beban panitia. Mereka bertugas mulai dari sebagai penjaga karcis, hakim garis sampai manager informasi. Bahkan banyak yang sudah jadi relawan sejak puluhan tahun lalu. Mungkin resiko banyak sukarelawan yang terlibat di lapangan, kurangnya standardisasi kualitas, khususnya kalau sudah dalam posisi menentukan seperti hakim garis dan wasit.

Kalau si nenek pencinta anjing tadi tidak peduli dengan All England, tidak begitu halnya dengan banyak mahasiswa Indonesia di Inggris. Ima, seorang kawan di Norwich mengaku “bela-belain” menyewa sebuah minibus bersama belasan rekannya untuk menonton All England. Padahal mereka harus menyetir bolak-balik paling tidak selama 8 jam. “Untung yang bawa bus kami supir medan”, seloroh Ima sambil menunjuk seorang kawan lain, Bang Latief, yang siap-siap menyetir pulang ke Norwich lagi. Donke, bersama kawan-kawan PPI Birmingham bahkan mengorganisir pembelian tiket dan berhasil mengumpulkan sampai 200-an orang supporter. Tidak heran kalau di hari semifinal, dukungan buat tim Indonesia cukup hingar bingar terdengar di National Indoor Arena, Birmingham ini. Ah, jadi ingat sorak-sorai penonton di Istora Senayan.
Sayang, pebulutangkis Indonesia kali ini prestasinya litak. Paling jauh hanya menggapai semifinal. Padahal, atlet Indonesia adalah salah satu “jualan” turnamen ini. Foto Taufik Hidayat dicetak di tengah poster All England 2005 untuk mempromosikan event ini. Sayang Taufik cedera beberapa hari sebelum hari keberangkatan ke Birmingham.

Fuadi-March 19, 2005 (sebelumnya dimuat di http://www.fuadi.multiply.com)

Surga Buku yang Jujur-WALES

hay31hay4
WALES
Hay-on-Wye sampe tahun 1960an sebenernya adalah sebuah kota kecil (town) di tapal batas Wales dan England. Nama kotanya sendiri adalah Hay yang artinya hedge atau fence, tapi karena letaknya di atas sungai Wye, makanya namanya menjadi Hay-on-Wye. Nama-nama kota di UK umumnya mirip2, makanya mereka membedakannya dengan nama sungai yang mengalir di kota itu. Contohnya Newcastle, minimal ada 2 kota yang namanya Newcastle. Untuk membedakannya, salah satunya adalah Newcastle-upon-Tyne, kota Newcastle yang kita kenal di Indonesia yang punya club sepakbola Newcastle United dengan Alan Shearer-nya. Contoh lain adalah kota kelahiran Shakespeare, yang letaknya cuma sekitar 1,5 jam dari London (antara London dan Birmingham), namanya Stratford, tapi karena letaknya di atas sungai Avon, makanya namanya jadi Stratford-upon-Avon.Balik ke Hay, kota ini bener2 tiny dan bisa dibilang in the middle of nowhere karena memang ga deket kota2 besar. Jarak dari London sekitar 400km, mungkin kota besar yang terdekat cuma Cardiff (ibukota Wales) yang jaraknya juga sekitar 1 jam driving dari Hay ato Birmingham sekitar 1,5 jam driving. Tapi seorang yang bernama Richard Booth, yang lulusan Oxford University, berhasil mengubah image Hay dari small ordinary town menjadi the first and the biggest book town in the world.

Ceritanya Richard Booth ini membeli sebuah gedung tua bekas fire station di Hay. Dia memang dari dulu sudah suka buku dan sempat kerja di toko buku di London khususnya dibagian second-hand book section. Begitu liat ada gedung tua yang bisa available, dia beli gedung itu dan dia ubah jadi toko buku 2nd hand. Berhubung dia pernah kerja di second-hand book section di toko buku besar di London, dia kenal contact sana sini. Jadi dia mulailah membangun toko bukunya, semakin banyak buku yang dia punya, dia beli space terus sampe akhirnya dia punya beberapa toko. Tapi bagaimana menarik pembeli buku untuk rela datang jauh2 ke Hay? Booth yang eksentrik ini punya trik, melalui media dia berkoar2 kalau Hay ingin melepaskan diri dari Wales dan menjadi negara sendiri, negara buku, bahkan sampai bikin paspor sendiri segala. Lalu Booth memproklamirkan dirinya menjadi raja, penduduknya antara lain jutaan buku dia itu. “Pemberontakan” yang jenaka ini menjadi berita dimana-mana, dan Hay semakin ramai dikunjungi. Dan akhirnya sampe sekarang Hay menjadi kota buku pertama dan terbesar di dunia, begitu menurut Guiness Book. Ada sekitar 36 toko buku di kota ini. Penduduk manusianya cuma 1500 orang, tapi penduduk bukunya sekarang sekitar 5 juta. Richard Booth sendiri punya 2 toko buku disana, salah satunya yang terbesar dengan koleksi sekitar 500 ribu buah. Orangnya entertaining banget, umurnya sekitar late 60s dan masih aktif kerja ngurusin toko bukunya. Dia sendiri yang masih handle purchasing. Kita sempet ketemu dan wawancara dia..

Hay jadinya kota yang unik, abis isinya toko buku melulu, dengan sebuah castle tua peninggalan abad 16 yang separuhnya udah jadi ruined (yang udah dibeli sama Richard Booth) dan disulap jadi toko bukunya.

Uniknya lagi, di beberapa tempat di pinggir jalan, tampak rak-rak buku berjejer tanpa ditungguin penjual. kalau mau beli, tinggal comot buku yang diinginkan, dan duitnya dimasukin ke kotak kayak celengan di dekat rak itu. Judulnya, Honesty Bookshoop. Dan toko ini buka 24 jam, 7 hari seminggu, dan dibiarkan terbuka terus. Kecuali kalau hujan deras, ditutupi plastik.

Lain hal yang menarik dari jalan-jalan ke daerah Wales adalah kita merasa sudah ada di negara lain, karena begitu masuk ke daerah Wales, semua papan pengumuman, termasuk sign di jalan2, udah dual languages, Welsh dan English… dan asli bahasa Wales ga ada mirip2nya sama bahasa Inggris. Bahkan BBC-nya pun berbahasa Welsh dengan subtitle English… padahal boleh dibilang ga ada physical borders antara Wales dan England.

Kita tadinya berniat pulang pergi aja, tapi ternyata karena perjalanan one-way aja udah makan waktu 4 jam, akhirnya kita memutuskan nginep. Kita nginep di B&B di pusat kota Hay. Kalo di UK, jalan utama yang merupakan pusat kota disebut sebagai High Street.

Intinya sih B&B yang kita nginep sebenernya rent a room di rumah orang local. Yang punya B&B juga yang punya toko buku, jadi rumahnya bertingkat 2 1/2, lantai dasar jadi toko buku, lantai 2 jadi dapur dan ruang keluarga dan yang 1/2 alias attic adalah kamar tidur. 1 kamar untuk mereka dan 3 kamar lainnya disewain. Yang punya pensiunan, orangnya friendly, asli orang Welsh.

Yayi-March 8, 2005 (sebelumnya dimuat di http://www.fuadi.multiply.com)