Harta Karun di Balik Rak Mahoni-LONDON

LONDON.

RAMBUT senjanya telah aus melawan waktu, memucat seputih salju. Agak melorot dari batang hidungnya, lensa tebal kacamata diapit frame plastik yang mulai lekang. Kulitnya pun telah tergerus zaman, keriput di sudut sana dan sini.

Melihat dandanannya, rasanya waktu mengkerut puluhan tahun ke belakang. Konservatif, tua, khas perempuan Inggris dari abad silam. Sweater wool cokelat yang bukan baru lagi membungkus sampai setengah leher. Tidak cukup melawan bekunya udara, tubuhnya masih dibungkus lagi sebuah jaket biru berbahan katun. Rok sederhana berwarna senada terjuntai hampir mata kaki. Sepatu kulit usang berwarna legam, berdekak-dekak setiap dia melangkah. Sebuah tas pinggang tua dari kulit yang disamak, melingkari pinggangnya. Dari dalamnya terdengar gemerincing beberapa receh Inggris.

Tua, tapi, matanya masih lincah, mengekor telunjuknya yang menapaki baris demi baris di halaman buku yang dipegangnya. Joyce, perempuan tua ini sedang membaca, tepatnya membaca cepat, skimming, buku-bukunya, untuk kemudian diklasifikasikan menurut tema. Dan ini dilakukannya 6 hari dalam seminggu, dari matahari mulai merangkak naik sampai kemudian terbenam. Dia adalah pemilik Two Jays, toko buku bekas di sudut jalan Edgware yang senyap, di pinggiran London.

Koleksi buku Joyce bahkan lebih renta lagi. Di dalam tokonya, buku dari berbagai zaman bertumpuk tidak begitu rapi. Bahkan ada yang dibiarkan teronggok seperti bukit kecil. Sebuah buku dari 2 abad lalu terduduk di rak kayu, sampul kulitnya yang coklet legam bagai meranggas, melepuh di beberapa tempat. Di halaman pertamanya ada goresan tinta dari bekas pemiliknya, tanggal pembelian buku: 12 January 1872.

Sudah 30 tahun ibu dua orang anak ini berjualan buku bekas. Di mulai bersama dengan suaminya James, kini dia tinggal dibantu anaknya, Mark, setelah suaminya tiba-tiba meninggal kena serangan jantung. “Siang dia masih bekerja di toko seperti biasa, tiba di rumah dia kena serangan jantung dan langsung meninggal. Bahkan saya tidak sempat membawanya ke rumah sakit”, kenang Joyce dengan suara ditegar-tegarkan. Matanya meredup mencoba menelan duka, lalu terdiam sesaat sebelum menghela napas panjang. Buru-buru dia menambahkan, “Tapi bercerita tentang almarhum suami saya kepada pelanggan, membantu saya melewati masa-masa berkabung”, aku Joyce sambil ujung-ujung jemarinya mengusap foto James.

Foto ini tercetak lekat di sebuah plakat kayu mahoni, di sebelahnya, sebuah lempeng perunggu berwarna keruh bertuliskan “In Loving Memory of James”. Di bagian atasnya, sekuntum bunga mawar plastik tersemat. “Saya cinta buku dan saya suka langganan toko saya, mereka orang-orang yang baik dan perhatian”, kilah Joyce ketika ditanya kenapa dia masih terus berjualan buku tua, ketika daerah tempat jualannya telah dikepung berbagai toko buku kaliber Waterstone’s dan Borders.

Walau tidak ramai, selalu ada saja yang mampir ke toko Two Jays. Pengunjungnya beragam: nenek uzur yang berjalan terbungkuk-bungkuk, anak laki-laki belasan tahun memakai kippot, sebentuk kopiah kecil orang Yahudi, seorang pria setengah umur dengan rambut perak setengah berdiri, mengingatkan kepada Einstein, seorang laki-laki berbaju sekenanya dan selalu menggumamkan UFO, tsunami dan pesawat yang bisa melesat di atas air.

Mereka datang dan pergi, sebagian hanya melongok sana melongok sini, tapi tidak sedikit yang pulang membuku 2-3 buku. Harga buku disini berkisar dari 1-6 pounds, sebagian kecil buku langka ada yang sampai seharga 80 pounds. Toh, tampaknya tidak banyak duit yang masuk kocek Joyce. “Tapi kami masih bisa mencukup-cukupkan untuk hidup”, kata Joyce.

Joyce dan Two Jays hanyalah satu contoh toko buku bekas yang semakin hari jumlahnya semakin menyusut di Inggris (lihat entry yang lain berjudul Honesty Bookshop). Selain terjepit masalah cash flow yang tidak lancar, ada juga yang gulung tikar karena tidak mampu melawan toko buku on-line yang lebih gampang diakses, tanpa harus susah payah datang ke toko buku. “Tapi lain rasanya ke toko buku bekas, seperti berburu harta karun. Di sini tertimbun buku dari berabad-abad silam sampai yang terbit baru-baru ini. So, you never know what you are going to find”, kilah seorang pelanggan yang telah belasan tahun selalu datang ke Two Jays, ketika ditanya mengapa dia masih menyempatkan diri ke toko ini.

Entah sampai berapa tahun lagi, tampaknya toko buku bekas masih akan terus bisa bertahan ditengah persaingan bisnis dengan toko-toko buku besar. Buku tua, selain harta intelektual, menjadi harta tak ternilai harganya bagi golongan orang yang menyebut dirinya kolektor buku. Selama mereka masih ada, selama itu pula bisnis Joyce masih berputar. Karena itulah Joyce di usia senjanya masih akan terus setia membuka pintu toko setiap pagi dan menutupnya, begitu matahari masuk peraduan. “This my way of life”, ujar Joyce. Tegar, tanpa menyesal.

Fuadi-March 24, 2005 (sebelumnya dimuat di http://www.fuadi.multiply.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s