Bulutangkis dan Pacu Anjing-BIRMINGHAM

BIRMINGHAM

“Badminton is not for us. We are here to see the dog festival”, jawab seorang nenek sambil terkekeh dan bangga memamerkan pin anjing keemasan yang bergayut di kerah jaketnya. Nenek ini bahkan mungkin tidak tahu apa itu bulutangkis. Padahal seminggu ini sebuah turnamen bulutangkis prestijius dan tertua di dunia sedang berlangsung di stadion NIA, tak jauh dari hotel tempat dia menginap. Jangan heran, di negara pak Tony Blair, bulutangkis bukan olahraga kelas satu, jauh terseok di belakang popularitas sepakbola, tennis, bilyard, rugby atau bahkan dart. Betul, permainan melempar semacam anak panah kecil ke sasaran bundar yang digantung di dinding. Kerap ditemukan di kamar-kamar anak kos di tanah air, tapi disini malah jadi event yang disiarkan di TV nasional.

Ada yang ironis di dunia bulutangkis Inggris. Boleh bangga dengan turnamen All England yang telah ada sejak tahun 1899, tapi di dalam negeri sendiri, bulutangkis dilirik sebelah mata. Hal ini tercermin pula dari kurangnya antusiasme media melaporkan kejuaraan ini. Di Media Center All England, hanya segelintir wartawan yang hilir mudik, itu pun kebanyakan juru foto. Alhasil, berita turnamen ini pun hanya “nyempil” di sudut halaman koran-koran besar Inggris.

Singkat kata, di Indonesia bolehlah bulutangkis jadi salah satu primadona dunia olahraga, tapi di daratan Inggris dia tak lebih dari salah satu aktor pendukung.

Untungnya, ada yang agak berbeda dari turnamen All England tahun ini. Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini diboyong ke Birmingham tahun 1994, jumlah penonton mencapai rekor tertinggi yakni lebih dari 20.000 orang. Dan banyak diantara mereka adalah anak muda. Bahkan pada partai semifinal dan final, semua tiket ludes terjual habis. Antusiasme besar seperti ini dibutuhkan dunia bulutangkis Inggris untuk mendongkrak populeritas olahraga ini.

Tampaknya, semaraknya All England kali ini antara lain berkat prestasi mengkilat ganda campuran Inggris Nathan Robertson dan Gail Emms yang tahun ini berhasil menyabet juara All England di depan para pendukungnya. Peraih perak Olimpiade ini punya penampilan muda, enak dipandang dan energik. Tidak heran kalau menjadi daya tarik buat banyak penonton muda. Nathan berpostur tinggi dan atletis, lumayan ganteng, lengkap dengan rambut ikal yang menyuntai sampai bahu. Sedangkan Gail, seorang cewek blonde yang cukup atraktif, walau dari dekat tidak semenarik kalau lagi sibuk menepuk bulu angsa di lapangan. “Tolong dong mintain tanda tangan mereka di kertas ini”, pinta seorang kawan yang mungkin kesengsem dengan duo ini.

Panitia sadar kalau kesempatan ini tidak boleh disia-siakan untuk mendongkrak citra bulutangkis Inggris. Begitu usai selesai pertandingan final, penonton bisa bertemu langsung dengan idola mereka. Seorang anak kecil dengan rambut pirangnya yang berkuncir, malu-malu menyeret tas raketnya yang hampir sama tinggi dengan badannya. Sebuah spidol hitam disodorkan kepada Nathan, yang lalu menggoreskan tanda tangannya di tas itu. Di belakang gadis cilik ini, ratusan orang berbaris dengan sabar untuk bertemu idolanya. Selain memberi tanda tangan, foto bersama pun dilayani pasangan ini dengan ramah. Sebuah ajang promosi yang bagus untuk bulutangkis Inggris.

Badminton Association of England (BAofE), PBSI-nya Inggris juga mulai membenahi diri. Namanya yang agak bertele-tele, BaofE diganti menjadi Badminton England. Logo lamanya yang kaku digantikan dengan sebuah lambang baru yang sporty, sebuah gambar abstrak yang menyerupai shuttlecock merah. Lengkap pula dengan sebuah moto yang cukup seksi: Love it, Play it. Live it. Fasilitas latihan lengkap dibangun di Milton Keynes, Pemain muda mulai direkrut dari sekolah-sekolah, pelatih bahkan diimpor dari luar negeri. Rexy Mainaiky, mantan pebulutangkis andalan Indonesia sudah beberapa tahun melatih tim ganda Inggris. “Saya banyak belajar dari Rexy, apalagi orangnya penuh semangat”, ungkap Nathan kepada saya beberapa saat setelah memenangkan final.

Yang lumayan unik di dunia bulutangkis Inggris, olahraga ini didukung oleh para sukarelawan fanatik. Di turnamen All England saja: sebagian besar panitia adalah sukarelawan yang tidak dibayar sama sekali sehingga meringankan beban panitia. Mereka bertugas mulai dari sebagai penjaga karcis, hakim garis sampai manager informasi. Bahkan banyak yang sudah jadi relawan sejak puluhan tahun lalu. Mungkin resiko banyak sukarelawan yang terlibat di lapangan, kurangnya standardisasi kualitas, khususnya kalau sudah dalam posisi menentukan seperti hakim garis dan wasit.

Kalau si nenek pencinta anjing tadi tidak peduli dengan All England, tidak begitu halnya dengan banyak mahasiswa Indonesia di Inggris. Ima, seorang kawan di Norwich mengaku “bela-belain” menyewa sebuah minibus bersama belasan rekannya untuk menonton All England. Padahal mereka harus menyetir bolak-balik paling tidak selama 8 jam. “Untung yang bawa bus kami supir medan”, seloroh Ima sambil menunjuk seorang kawan lain, Bang Latief, yang siap-siap menyetir pulang ke Norwich lagi. Donke, bersama kawan-kawan PPI Birmingham bahkan mengorganisir pembelian tiket dan berhasil mengumpulkan sampai 200-an orang supporter. Tidak heran kalau di hari semifinal, dukungan buat tim Indonesia cukup hingar bingar terdengar di National Indoor Arena, Birmingham ini. Ah, jadi ingat sorak-sorai penonton di Istora Senayan.
Sayang, pebulutangkis Indonesia kali ini prestasinya litak. Paling jauh hanya menggapai semifinal. Padahal, atlet Indonesia adalah salah satu “jualan” turnamen ini. Foto Taufik Hidayat dicetak di tengah poster All England 2005 untuk mempromosikan event ini. Sayang Taufik cedera beberapa hari sebelum hari keberangkatan ke Birmingham.

Fuadi-March 19, 2005 (sebelumnya dimuat di http://www.fuadi.multiply.com)

One response to “Bulutangkis dan Pacu Anjing-BIRMINGHAM

  1. Kite kirain badminton ngetop banget di Inggris sono, nggak taunya cuma ecek2.
    Untung ada supir Medan (ehm…orang Medan tersinggung, atawa tersanjung?).
    Tancap lae…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s