Jurassic Park of Indonesia

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

“Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia”, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo? Reptil besar yang menjulur-julurkan lidah bercabangnya mencari mangsa? Setidaknya itulah yang muncul di kepala kami ketika pertama berkunjung ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini. Tapi rupanya Kepulauan Komodo tidak hanya karnivora purba itu, melainkan sebuah paket ekowisata darat dan bawah laut yang begitu menawan.

Bertolak dari Jakarta pagi-pagi, menjelang siang kami mendarat di Denpasar. Lantas berganti pesawat menuju Labuan Bajo, Manggarai Barat. Ini adalah akses udara paling dekat ke Komodo. Dari Labuan Bajo, wisatawan bisa naik speed boat ke Pulau Komodo atau Pulau Rinca, dua pulau utama yang dihuni Komodo.

Pesona Komodo langsung dimulai ketika kami masih melayang di udara. Dari jendela pesawat, terlihat gugusan pulau yang diapit pulau Flores dan Sumbawa ini didominasi warna rumput savana yang menguning dan tanah merah kering. Uniknya, pulau-pulau tandus ini dilingkari pantai dan laut yang indah. Di beberapa pulau ini hidup sekitar 2500 ekor hewan yang dikenal di luar negeri dengan nama yang sangar, Komodo dragon.

Trekking di savana. Seperti tidak berada di Indonesia

Trekking di savana. Seperti tidak berada di Indonesia

Terletak di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Komodo (TNK) didirikan pada tahun 1980 untuk melestarikan binatang langka Komodo (Varanus komodoensis) dan keanekaragaman hayati darat dan laut kawasan ini. Sebagai pengakuan dunia atas kekayaan alam ini, kawasan seluas 1.817 km2 ini dikukuhkan sebagai Cagar Manusia dan Biosfir serta Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada tahun 1986.

Tujuan kami yang pertama adalah pintu masuk ke Taman Nasional Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca. Alam di Loh Buaya sangat berbeda dibanding wilayah Indonesia kebanyakan. Ke mana pun mata memandang, terlihat bukit-bukit kecil yang didominasi rumput dan semak yang menguning di musim kering. Lazimnya savana, tidak banyak pohon yang tumbuh di sini. Di beberapa bagian menjulang pohon lontar secara bergerombol.

Setelah membayar tiket dan sumbangan untuk konservasi, seorang petugas TNK akan mendampingi turis melintasi trek yang telah disediakan untuk menikmati alam savana dan tentu saja melihat komodo di alam liar mereka. Setiap petugas membawa tongkat kayu berukuran 2 meteran dengan ujung bercabang dua sebagai senjata kalau ada komodo yang mengganggu. Dengan teknik yang tepat, sodokan ujung tongkat ke bahu komodo akan membuat hewan ini mundur.

Seorang anak mengasuh adik-adiknya di kampung nelayan di Komodo.

Seorang anak mengasuh adik-adiknya di kampung nelayan di Komodo.

Di kawasan ini Komodo adalah raja rantai makanan karena tidak punya pemangsa. Mereka memangsa apa saja, mulai dari kerbau liar, rusa, termasuk bahkan anak komodo dan komodo dewasa. Lidahnya yang super sensitif bisa menangkap bau darah dari jarak lebih dari satu kilometer. Gayanya menangkap mangsa adalah dengan bermalas-malasan seperti tidak peduli, tapi begitu mangsa mendekat, secepat kilat mereka menyerang. Bila mangsa belum lumpuh dalam serangan pertama, air liurnya yang mengandung bakteri mematikan membuat mangsa yang sudah dilukai lama-lama akan lemah.

Komodo dragon

Komodo dragon

Selain itu, kami juga mengunjungi Loh Liang di Pulau Komodo. Selain hewan komodo, di pulau ini kita bisa melihat berbagai jenis burung liar seperti kakak tua jambul kuning sampai burung gosong. Di sini fasilitas turis mulai dari kamar kecil, toko cenderamata sampai ruang selamat datang sangat bagus dan bersih, didominasi unsur kayu bergaya minimalis. Tidak kalah dengan fasilitas turis luar negeri. Fasilitas ini dibangun atas kerjasama NGO konservasi, The Nature Conservancy (TNC) dengan TNK dan pemerintah melalui PT Putri Naga Komodo. Kerjasama ini diharapkan bisa melestarikan alam Komodo yang kaya tapi juga bisa membangun ekoturisme yang mandiri.

Selain pesona darat, alam bawah laut Komodo sangat mempesona. Menurut hasil penelitian TNC yang sudah lama membantu konservasi daerah ini, keanekaragaman hayati dan terumbu karang kepulauan ini sangat kaya. Paling tidak ditemukan lebih dari 1.000 spesies ikan, 385 spesies terumbu karang, 70 spesies sepon dan 16 spesies paus dan lumba-lumba.Tidak heran kalau Komodo menjadi salah satu lokasi selam terbaik di dunia.

Berbekal peralatan snorkling, kami mencebur di Pantai Merah. Tiba-tiba kita merasa berada di dunia lain. Ikan dalam berbagai rupa, ukuran dan warna berseliweran santai di sekitar kita. Sementara itu terumbu karang dengan segala bentuk yang unik membuat kami betah berlama-lama memandang surga bawah air ini.

Di kawasan Taman Nasional ini tinggal sekitar 4.000 penduduk yang tersebar di empat area pemukiman (Komodo, Rinca, Kerora, dan Papagaran). Semua kampung-kampung ini telah ada jauh sebelum tahun 1980, saat di mana area ini dideklarasikan sebagai Taman Nasional. Kebanyakan adalah nelayan yang berasal dari Bima (Sumbawa), Manggarai, Flores Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Kawasan Komodo menyajikan warna-warna alam yang kontras mulai dari langit biru, laut biru kehijauan, ilalang menguning, tanah merah.

Kawasan Komodo menyajikan warna-warna alam yang kontras mulai dari langit biru, laut biru kehijauan, ilalang menguning, tanah merah.

Bersama penduduk inilah pemerintah, Taman Nasional dan TNC bekerjasama untuk menjaga kekayaan alam Komodo. Tantangannya beragam mulai dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan pariwisata tidak terkendali sampai teknik penangkapan ikan yang merusak, mulai dari bom ikan, penggunaan pukat harimau, dan penangkapan yang berlebihan. Sekali ekosistem ini rusak, akan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk memulihkan kerajaan indah sang naga ini.

Tempat yang penting dikunjungi di Komodo: Loh Liang di Pulau Komodo dan Loh Buaya di Pulau Rinca. Bagi yang senang diving atau snorkeling, banyak sekali site yang indah untuk dinikmati. Pemandu turis di Labuan Bajo bisa menunjukkan tempat yang tepat.

Penginapan: Banyak penginapan yang tersedia di Labuhan Bajo. Bahkan tahun ini telah berdiri sebuah hotel berbintang 4 di kota ini.http://www.balihotelsdiscount.com/hotel_Bintang_Flores_Hotel_373_Flores_Island_33.html

Sebagai alternative, ada juga bungalow di Pulau Rinca, atau sekalian ingin pengalaman yang berbeda, bisa menyewa kapal yang sudah dilengkapi dengan kamar untuk menginap.

Transportasi: Sebaiknya mereservasi pesawat dari Denpasar ke Labuhan Bajo beberapa hari sebelumnya, karena penerbangan terbatas dan penumpang cukup banyak. Tiketnya sekitar 600 ribu. Sedangkan untuk mencapai Pulau Komodo dari Labuhan Bajo, cara terbaik adalah menyewa speedboat.  Selain itu bisa juga menumpang boat umum yang dipakai masyarakat sekitarnya.

Berikut ini info detil dari http://www.gokomodo.org

While most visitors enter Komodo National Park through the gateway city of Labuan Bajo in the west of Flores or occasionally Bima in eastern Sumbawa, the departure point for your trip is actually Denpasar, Bali.

By Air:

Both Labuan Bajo and Bima are serviced by regularly scheduled flights from Bali.

Denpasar- Labuan Bajo
Flight Time: 90 minutes

1.         INDONESIA AIR TRANSPORT (IAT)
DPS – LBJ: 10.00 – 11.30 (daily flight)
LBJ – DPS: 11.00 – 12.30 (daily flight)
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,800,000

2.         MERPATI NUSANTARA
DPS – LBJ: 10.00 – 11.35 (every Monday, Tuesday, Thursday and Saturday)
LBJ – DPS: 12.05 – 13.40 (every Monday, Tuesday, Thursday and Saturday)
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,815,000

3.        TRANS NUSA
DPS – LBJ: 09.00 – 10.22 (daily flight)
LBJ – DPS: 11.00 – 12.22 (daily flight)
Return ticket (as of 17/11/08): Rp. 1,840,000

Note: the flight schedule and ticket prices may change with or without prior notice

Denpasar-Bima
Flight time: 50 minutes.

1.         MERPATI NUSANTARA
DPS – BIMA: 10.40 – 11.30 (daily flight)
BIMA  – DPS: 12.00 – 12.50 (daily flight)

Return ticket (as of 10/6/06):  Rp. 932.000.00

Note: the flight schedule and ticket prices may change with or without prior notice

By Land:

The gateway cities of Labuan Bajo and Bima are connected to Denpasar, Bali by overland buses. Note that this is a long and arduous option, though travelling overland in Indonesia can be a rewarding way of becoming acquainted with the country.

By Sea (ferry):

Travel time: approximately 36 hours

The gateway cities of Labuan Bajo and Bima are also connected to Denpasar, Bali by inter-island ferry.

Contact the Indonesia Sea Transportation Company (PELNI) at Jalan Raya Kuta No. 299, Tuban – Bali (Tel: 0361 – 763 963) to reserve a seat on the KM. Tilong Kabila, which departs Benoa Port, Bali at 9am and arrives in Labuan Bajo around 10pm the next day.

Benoa-Bima-Labuan Bajo
Fortnightly (every two weeks) on Saturdays: 09.00-20.00 (next day).
One-way ticket (as of 10/6/06) from Rp. 187,500 (economy) – Rp. 570,000.00 (Class I)

Labuan Bajo-Bima-Benoa
Fortnightly (every two weeks) on Thursdays: 08.00-11.00 (next day).
One-way ticket (as of 10/6/06) from Rp. 187,500 (economy) – Rp. 570,000.00 (Class I)

Note: the ferry schedule and ticket prices may change without prior notice

By Sea (live-aboard):

Komodo National Park is serviced by a wide range of live-aboard operators, with return packages to Komodo National Park from a variety of departure points, including Bali, Lombok, Bima and Labuan Bajo. Many but not all of these are specialized dive operations. Charter prices vary considerably depending on facilities, capacity and levels of luxury, from around $200 to $10,000 a night. Packages of varying lengths are also available and are invariably more economical.

From Gateway Towns to Komodo National Park (KNP)

You can easily organize a shared boat charter by local boat from either ports at Labuan Bajo or Bima  (Sape) to the two major points of access in the Park: Loh Liang (on Komodo Island) or Loh Buaya (on Rinca Island).

Charter price (as of 10/6/06) – excluding meals, KNP entrance fee etc:
Labuan Bajo: KNP: Rp. 1,200,000 per boat / day (max. capacity 12 people)
Bima (Sape): KNP: Rp. 3,000,000 per boat / 2 days/1 night (max. capacity 15 people)

Note: the charter prices may change with or without prior notice

Waktu kami traveling: Pertengahan Januari 2008. Waktu yang disarankan 2-3 hari.

Suhu: Hampir sepanjang tahun, matahari memancar benderang di sini, sehingga suhu cukup panas dan suasana kering. Siapkan topi, kaos lengan panjang, sun screen, kalau Anda keberatan kulit agak menghitam.

Oleh-oleh: Tenun ikat, patung kayu komodo, dan aksesoris mutiari

Perkiraan biaya: Akomodasi, makan, transportasi, oleh-oleh, dll. Bagian ini akan diisi oleh Yayi nanti

Informasi lebih lanjut:

www.komodonationalpark.org

http://www.gokomodo.org

Tulisan yang mirip pernah dimuat di Majalah Nebula tahun 2008

3 responses to “Jurassic Park of Indonesia

  1. sorry nih, andai photonya lebih banyak, alangkah bagusnya. jadi bisa melihat lebih banyak dan tahu lebih detil gitu.🙂

    terima kasih comment dan masukannya mas. saya akan usahakan foto lebih banyak, dan sebagian ditaruh di folder foto. salam

  2. Ditunggu nih Perkiraan biaya dari Mbak Yayi, hehee
    cos itu kan termasuk yang paling penting untuk terlaksananya suatu perjalanan liburan…
    hhee….
    Klo bisa dikasih dalam bentuk range dari yang paling ekonomis sampe yang rada mahalan gitu….

  3. waaaah, kenapa foto saya ada jg disitu ?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s