Tag Archives: turis lokal

Nirwana Biru di Timur Kalimantan

Dermaga kayu di di Pulau Kakaban

Dermaga kayu di Pulau Kakaban

Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat. Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya–dengan waspada mengawasi kapal kami yang melambat.

Mendekati mulut sungai, air coklat pelan-pelan berubah menjadi bening kebiruan, kami masuk ke kawasan kepulauan Derawan. Selain eksotisme namanya, kepulauan ini terkenal di dunia karena diberkati terumbu karang yang sangat indah dan kaya. Menurut hasil penelitian, kawasan ini punya 460 spesies terumbu karang dan 870 spesies ikan. Jumlah yang sangat tinggi, dan hanya dikalahkan oleh Raja Ampat di Papua. Continue reading

Advertisements

Jurassic Park of Indonesia

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

Sebuah pulau perkampungan nelayan di perairan Komodo

“Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia”, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo? Reptil besar yang menjulur-julurkan lidah bercabangnya mencari mangsa? Setidaknya itulah yang muncul di kepala kami ketika pertama berkunjung ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini. Tapi rupanya Kepulauan Komodo tidak hanya karnivora purba itu, melainkan sebuah paket ekowisata darat dan bawah laut yang begitu menawan. Continue reading

A Couple Who Travels Together Grows Together-JAKARTA

JAKARTA

marokoDi sebuah majalah traveling, Budget Travel, edisi Oktober 2008, kami membaca sebuah quote menarik “a couple who travels together grows together”. Wah bener banget. Cocok dengan yang kami rasakan. Aku dan istriku, Yayi selalu berusaha traveling bersama sejak tahun 1999. Kesempatannya bermacam-macam, mulai dari liburan murni, business trip sampai sekolah. Sejauh ini kami beruntung dapat mengunjungi lebih dari 20 negara dan ratusan kota.

Kita pasangan traveler yang klop dan saling melengkapi. Sementara aku tidak suka dengan urusan pesan tiket dan reservasi, Yayi malah senang mengurus semuanya. Dia suka bingung mulai packing, aku ahli mengepak baju dengan ringkas ke koper. Kalau Yayi selalu siap dengan peta dan guide book, aku selalu dengan kamera. Tentu saja ada yang berbeda. Aku suka jalan melihat alam, Yayi lebih suka melihat kota dan peradaban. Tapi di sinilah seninya traveling sebagai couple. Itinerary kami diskusikan untuk mengakomodasi interest berdua.

Pertengahan November 2008, kawanku satu almamater, Hery Azwan, tiba-tiba mem-buzz di YM. “Wah, cerita perjalanan ente di multiply kalau dibuat buku juga menarik tuh bersama foto-fotonya yang ciamik…”, katanya. Wah ide yang menarik juga.

Nah, sebagai awalnya, penggalan cerita-cerita ini kami post di blog dulu. Isinya cerita ringan perjalanan kami backpacking sebagai couple, pasangan suami istri ke berbagai belahan dunia.  Rasanya tidak banyak cerita traveling sebagai pasangan. Selain itu kami juga ingin berbagi tips traveling hemat dan ekonomis. Apalagi Yayi rajin sekali mempersiapkan setiap rencana traveling kami mulai riset, tiket, reservasi dan lainnnya, dengan prinsip ekonomis.

Dan tidak kalah pentingnya berbagi pengalaman sebagai muslim traveler. Sejauh ini kami belum menemukan blog khusus membahas bagaimana muslim bisa traveling dengan nyaman ke berbagai negara yang tidak dominan Islam. Nyaman dalam arti bisa menikmati jalan-jalan, tapi juga tidak kesulitan mencari makanan dan minuman halal, menemukan masjid atau tempat shalat dan sebagainya. Alhamdulillah sejauh ini, kami tetap bisa menikmati traveling tanpa sulit mencari makanan halal dan tempat shalat.

Selamat menikmati dan kami tunggu komentar Anda.

salam

Fuadi dan Yayi-Nov 24, 2008